Jumat, 27 Agustus 2010

CAKAR (Cah Karangsari)

CAKAR (Cah Karangsari)
Cakar adalah kependekan dari Cah Karangasri, yaitu kelompok pemuda kreatif yang lahir di Dukuh Karangsari, Desa Clering, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara. Kelompok ini berdiri pada tahun 2006 yang beranggotakan puluhan pemuda yang dipimpin oleh Tonny Anggoro, SE. Kegiatan CAKAR antara lain : aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan, kegiatan sosial, pendidikan dan ekonomi. Misalnya, aktif dalam memeriahkan Takbir Keliling menyambut malam Idhul Fitri dengan membuat karya kerajinan/ miniatur untuk karnaval. Selain itu, kelompok ini juga terampil dan inovatif dalam membuat desain spanduk, stiker, kaos dan lain sebagainya.

Hengky Aris Sandy, Tonny Anggoro, & Frengky Widias Sandy















Lokasi :
Dinding Pagar Sebelah Utara, Kampus ISI Yogyakarta, Tahun 2001

Sabtu, 21 Agustus 2010

Patah Untuk Tumbuh - Karya Seni Kriya Kayu




















Karya : Frengky Widias Sandy
Bahan : Kayu Jati
Ukuran : 60 x 40 x 3 cm
Teknik : Kerja Bangku, Jiq Zaw dan Ukir
Finishing : Politur dan Air Brush

Lampu Hias/ Jatuh Cinta (Karya Seni Kriya Kayu)




















Karya : Frengky Widias Sandy
Bahan : Kayu Jati
Ukuran : 30 x 15 x 60 cm
Teknik : Kerja Bangku, Jiq Zaw dan Ukir
Finishing : Politur

Introspeksi (Karya Seni Kriya Kayu)




















Introspeksi

Karya : Frengky Widias Sandy
Bahan : Kayu Jati
Ukuran : 90 x 90 x 3 cm
Teknik : Kerja Bangku, Jiq Zaw dan Ukir
Finishing : Politur dan Air Brush

Konsep

Matahari sebagai benda di langit yang bersinar sangat terang merupakan objek alam yang memiliki sejumlah tanda, salah satunya adalah sebagai simbol pencerahan, yang membawa manusia pada pemahaman bahwa dengan sinarnya yang menerangi kehidupan merupakan isyarat, petunjuk kepada suatu sumber transenden nilai-nilai tauhid atau ketuhanan. Matahari adalah nikmat Allah swt untuk kehidupan manusia yang dapat bermakna sebagai pelajaran hidup (Q.S. Asy Syams : 1-10). Makna ini mengilhami manusia dalam menentukan jalan hidupnya, dan memberi dorongan manusia untuk membersihkan jiwa dan raganya agar mendapat keberuntungan kehidupan di dunia dan akhirat, “dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari)?” (Q.S. An Naba’: 13).

Deskripsi Karya

Apabila matahari tergambar bersinar di atas pantai sebuah kepulauan yang hijau tentu akan mengisyaratkan suasana segar. Tetapi bila digambarkan di atas padang pasir tentu akan mengisyaratkan suasana yang panas.

Penggambaran matahari yang bersianar merah dengan garis sinar yang awut-awutan merupakan simbol matahari yang memiliki sifat kuat, yang bercahaya maha dahsyat, sekaligus memiliki karakteristik panas yang menyengat dan membakar. Matahari merupakan benda yang menimbulkan rasa takut.

Di daerah yang beriklim tropis seperti di Indonesia, yang terletak dekat dengan garis khatulistiwa, akan menerima panas dalam jumlah atau kuantitas yang lebih besar, sehingga temperatur udara akan selalu tinggi. Tiap-tiap tempat, dalam satu tahun akan mendapatkan 2 kali matahari tegak lurus pada jam 12 siang.

Pemanasan bumi, akibat dari cahaya matahari akan berpengaruh langsung pada manusia. Penggambaran bukit tandus, pohon kering dan barisan manusia berjalan mambungkuk adalah suatu simbol yang mengisyaratkan pada nuansa panas yang sedang melanda.

Kekuatan matahari yang luar biasa, memaksa manusia untuk mencari sesuatu yang lebih menyejukkan. Penggambaran barisan manusia yang berjalan membungkuk adalah simbol intropeksi mencari kecerahan hidup.

Sinar Kasih Matahari (Karya Seni Kriya Kayu)





















Sinar Kasih Matahari

Karya : Frengky Widias Sandy
Bahan : Kayu Jati
Ukuran : 90 x 60 x 3 cm
Teknik : Kerja Bangku, Jiq Zaw dan Ukir
Finishing : Politur dan Air Brush
Koleksi : Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta


Konsep Karya

Matahari sebagai benda di langit yang bersinar sangat terang merupakan objek alam yang memiliki sejumlah tanda, salah satunya adalah sebagai simbol pencerahan, yang membawa manusia pada pemahaman bahwa dengan sinarnya yang menerangi kehidupan merupakan isyarat, petunjuk kepada suatu sumber transenden nilai-nilai tauhid atau ketuhanan. Matahari adalah nikmat Allah swt untuk kehidupan manusia yang dapat bermakna sebagai pelajaran hidup (Q.S. Asy Syams : 1-10). Makna ini mengilhami manusia dalam menentukan jalan hidupnya, dan memberi dorongan manusia untuk membersihkan jiwa dan raganya agar mendapat keberuntungan kehidupan di dunia dan akhirat, “dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari)?” (Q.S. An Naba’: 13).

Deskripsi Karya

Negara Indonesia sebagai negara agraris, amatlah wajar bila populasi petani lebih banyak dibandingkan dengan profesi yang lainnya. Petani identik dengan simbol-simbol wong cilik yang jauh dari kemewahan, tetapi lebih banyak menceritakan perjuangan serta kegigihan hidup yang sesungguhnya.

Kerja petani mulai dari mengolah, menyemai, menanam dan memungut hasilnya, merupakan serangkain proses panjang yang harus dilalui dengan tekun, teliti, sabar dengan berasaskan gotong royong, karena segala kepenatan dan beban dapat teratasi dengan bentuk kerjasama, keikhlasan, kejujuran dan lainnya.

Kerut marut dan menghitamnya kulit mereka yang terasa akrab dengan terik panasnya matahari mengisyartkan suatu perjuangan dan kegigihan untuk pantang menyerah pada hambatan atau rintangan hidup. Dengan kata lain, teriknya panas matahari, telah menjadi teman yang akrab dikehidupan petani.

Secara alamiah, pemanfaatan panas matahari ketika musim panen tiba, padi telah menguning dan siap dipanen, Memungut hasil adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu. Kegembiraan dan keceriahan hidup terpancar dari wajah-wajah mereka.

Penggambaran matahari yang berwarna hijau dan penggambaran kedua petani yang menyatu dalam visualisasi matahari merupakan simbol dari keakraban atau isyarat bahwa matahari dan petani merupakan dua simbol yang saling tidak terpisahkan. Penggambaran matahari yang berputar, daya pancaran sinarnya yang berbentuk seperti daun padi mengsiyaratkan sesuatu letupan atau kegembiraan dalam kesuksesan hidup yang diperjuangkannya

Sinar kasih matahari kepada petani adalah nikmat Allah swt yang tidak terhingga, yang harus disyukuri.

Hkmah Senja ?... (Karya Seni Kriya Kayu)





















Hikmah Senja ?...

Karya : Frengky Widias Sandy
Bahan : Kayu Jati
Ukuran : 90 x 90 x 3 cm
Teknik : Kerja Bangku, Jiq Zaw dan Ukir
Finishing : Politur dan Air Brush

Konsep

Matahari sebagai benda di langit yang bersinar sangat terang merupakan objek alam yang memiliki sejumlah tanda, salah satunya adalah sebagai simbol pencerahan, yang membawa manusia pada pemahaman bahwa dengan sinarnya yang menerangi kehidupan merupakan isyarat, petunjuk kepada suatu sumber transenden nilai-nilai tauhid atau ketuhanan. Matahari adalah nikmat Allah swt untuk kehidupan manusia yang dapat bermakna sebagai pelajaran hidup (Q.S. Asy Syams : 1-10). Makna ini mengilhami manusia dalam menentukan jalan hidupnya, dan memberi dorongan manusia untuk membersihkan jiwa dan raganya agar mendapat keberuntungan kehidupan di dunia dan akhirat, “dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari)?” (Q.S. An Naba’: 13).

Deskripsi Karya

Terjadinya siang dan malam adalah dikarenakan cahaya atau sinar matahari yang dipancarkan ke bumi. Bumi yang merupakan sebuah planet berbentuk bola, maka hanya separuh bagian saja yang mendapat cahaya matahari saat bersamaan.

Bagi manusia yang tinggal di bumi, matahari dikatakan terbit dari timur dan terbenam di sebelah barat. Karena bumi bergerak atau berputar dari barat ke timur, maka di timur bisa diartikan sebagai simbol kelahiran dan barat diartikan sebagai kematian. Perjalanan hidup manusia dari lahir, anak-anak, remaja, dewasa dan kemudian mati adalah serangkaian proses yang lazim dilalui manusia.

Penggambaran matahari pada karya ini divisualisasikan dengan figur manusia berkepala matahari yang terpelanting, merupakan sebuah isyarat bahwa cepat atau lambat kematian akan menjemput manusia, terbit dan tenggelam adalah sesuatu kepastian.

Hal ini membawa pengertian kepada manusia untuk segera sadar diri bahwa alam telah mengisyaratkan fenomena matahari dalam terbit dan tenggelam. Dapatkah manusia mengambil pelajaran atau pengalaman hidupnya dari hikmah senja ?...




Cinta Kasih (Karya Seni Kriya Kayu)




















Cinta Kasih

Karya : Frengky Widias Sandy
Bahan : Kayu Jati
Ukuran : 130 x 90 x 3 cm
Teknik : Kerja Bangku, Jiq Zaw dan Ukir
Finishing : Politur da Air Brush
Koleksi : Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta

Konsep

Matahari sebagai benda di langit yang bersinar sangat terang merupakan objek alam yang memiliki sejumlah tanda, salah satunya adalah sebagai simbol pencerahan, yang membawa manusia pada pemahaman bahwa dengan sinarnya yang menerangi kehidupan merupakan isyarat, petunjuk kepada suatu sumber transenden nilai-nilai tauhid atau ketuhanan. Matahari adalah nikmat Allah swt untuk kehidupan manusia yang dapat bermakna sebagai pelajaran hidup (Q.S. Asy Syams : 1-10). Makna ini mengilhami manusia dalam menentukan jalan hidupnya, dan memberi dorongan manusia untuk membersihkan jiwa dan raganya agar mendapat keberuntungan kehidupan di dunia dan akhirat, “dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari)?” (Q.S. An Naba’: 13).

Deskripsi Karya

Matahari adalah nikmat Allah swt untuk kehidupan mahluk ciptaan-Nya. Segenap kehidupan di bumi sangat tergantung dari matahari, yang membawa akibat-akibat; iklim, angin, musim, yang langsung mengenai ‘hayyu’ atau hidup manusia, karena bahan-bahan yang sangat vital unutk hidup manusaia tidak dapat terlepas dari daerah dingin, subtropis, dan tropis, yang bertalian langsung dengan udara, angin, bumi dan matahari. Kehidupan manusia dengan isi alam semesta ini sangat penting dan tidak dapat dipisahkan. Dengan demikian, matahari dapat membawa pada pemaknaan, isyarat sebagai simbol “cinta kasih” Allah swt untuk seluruh kehidupan manusia.


Satu Tujuan (Karya Seni Kriya Kayu)




















Satu Tujuan

Karya : Frengky Widias Sandy
Bahan : Kayu Jati
Ukuran : 130 x 90 x 3 cm
Teknik : Kerja Bangku, Jiq Zaw dan Ukir
Finishing : Politur dan Air Brush
Koleksi : Warung Makan Mak Siti Jogja

Konsep

Matahari sebagai benda di langit yang bersinar sangat terang merupakan objek alam yang memiliki sejumlah tanda, salah satunya adalah sebagai simbol pencerahan, yang membawa manusia pada pemahaman bahwa dengan sinarnya yang menerangi kehidupan merupakan isyarat, petunjuk kepada suatu sumber transenden nilai-nilai tauhid atau ketuhanan. Matahari adalah nikmat Allah swt untuk kehidupan manusia yang dapat bermakna sebagai pelajaran hidup (Q.S. Asy Syams : 1-10). Makna ini mengilhami manusia dalam menentukan jalan hidupnya, dan memberi dorongan manusia untuk membersihkan jiwa dan raganya agar mendapat keberuntungan kehidupan di dunia dan akhirat, “dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari)?” (Q.S. An Naba’: 13).

Deskripsi Karya

Simbolis matahari (sumber ilmu) adalah nikmat Allah swt untuk kehidupan manusia yang dapat bermakna sebagai pelajaran hidup (Al Qur’an Asy Syam : 1-10). Makna ini mengilhami manusia dalam menentukan jalan hidupnya, dan memberikan dorongan kepada manusia untuk membersihkan jiwa dan raganya agar mendapat keberuntungan di dunia dan di akhirat.

Dengan ilmu, hidup manusia menjadi mudah. Namun akibat adanya ilmu, juga dapat membantu manusia untuk tujuan yang kurang terpuji, bahkan dapat menjerumuskan kepada perbuatan-perbuatan yang terlarang. Ilmu banyak disalahgunakan, sehingga merugikan esensi hidupnya, Karena mengotori eksistensi hakikat manusia sebagai khalifah yang membawa kebenaran nilai yang diberikan Allah swt.

Penggambaran pancaran sinar matahari yang berwarna kuning kemerahan atau lebih mirip dengan bola api yang berpijar merupakan simbol ilmu yang mampu menerangi hidup, pancarannya yang dinamis memengisyaratkan ada pusaran yang memusat atau gerakan aktif yang membawa kehidupan dibawahnya untuk segera menuju pada hakikat sinar tersebut, cahaya dari atas cahaya, sebagai tujuan, sumber ilmu dalam menuntun pada nilai tauhid yang sebenarnya.

Generasi Baru (Karya Seni Kriya Kayu)





















Generasi Baru

Karya : Frengky Widias Sandy
Bahan : Kayu Jati
Ukuran : 90 x 90 x 3 cm
Teknik : Kerja Bangku, Jiq Zaw dan Ukir
Finishing : Politur dan Air Brush

Konsep

Matahari sebagai benda di langit yang bersinar sangat terang merupakan objek alam yang memiliki sejumlah tanda, salah satunya adalah sebagai simbol pencerahan, yang membawa manusia pada pemahaman bahwa dengan sinarnya yang menerangi kehidupan merupakan isyarat, petunjuk kepada suatu sumber transenden nilai-nilai tauhid atau ketuhanan. Matahari adalah nikmat Allah swt untuk kehidupan manusia yang dapat bermakna sebagai pelajaran hidup (Q.S. Asy Syams : 1-10). Makna ini mengilhami manusia dalam menentukan jalan hidupnya, dan memberi dorongan manusia untuk membersihkan jiwa dan raganya agar mendapat keberuntungan kehidupan di dunia dan akhirat, “dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari)?” (Q.S. An Naba’: 13).


Pencerahan (Karya Seni Kriya Kayu)





















Pencerahan

Karya : Frengky Widias Sandy
Bahan : Kayu Jati dan Kuningan
Ukuran : 130 x 90 x 3 cm
Teknik : Kerja Bangku, Jiq Zaw, Bubut dan Ukir
Finishing : Politur dan Air Brush

Konsep

Matahari sebagai benda di langit yang bersinar sangat terang merupakan objek alam yang memiliki sejumlah tanda, salah satunya adalah sebagai simbol pencerahan, yang membawa manusia pada pemahaman bahwa dengan sinarnya yang menerangi kehidupan merupakan isyarat, petunjuk kepada suatu sumber transenden nilai-nilai tauhid atau ketuhanan. Matahari adalah nikmat Allah swt untuk kehidupan manusia yang dapat bermakna sebagai pelajaran hidup (Q.S. Asy Syams : 1-10). Makna ini mengilhami manusia dalam menentukan jalan hidupnya, dan memberi dorongan manusia untuk membersihkan jiwa dan raganya agar mendapat keberuntungan kehidupan di dunia dan akhirat, “dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari)?” (Q.S. An Naba’: 13).


DESAIN MEBEL 1

DESAIN MEBEL 2

DESAIN MEBEL 3

DESAIN MEBEL 4

COVER ALBUM LENTERA MUSIK CLERING

Gitaris Purwanto Lentera Clering

Senin, 16 Agustus 2010

Sarjana-Sarjana Desa Clering

PNPM Kecamatan Donorojo - Jepara

SALAM CINTA (Syair Lagu dan Konsep Karya)

SALAM CINTA
Oleh : LENTERA“Kreasi Musik Karangsari Clering” *3

Syair Lagu
Arti hadirmu di jiwaku
Bawa diriku terbang tinggi
Di indahmu…

Anugrah cinta penuh pesona
Karunia indah sang pencipta
Isi dunia…

Salam cintaku untuk segala
Ungkapan rasa betik jiwa
Senandung cinta kian menggema
Ribuan nada terjalin makna
Salam cinta, salam cinta…
Salam cinta untuk segala

Salam cintaku untuk segala
Ungkapan rasa betik jiwa
Senandung cinta kian menggema
Ribuan nada terjalin makna
Salam cinta, salam cinta…
Salam cinta untuk segala

Arti hadirmu di jiwaku
Bawa diriku terbang tinggi
Di indahmu…


Konsep Karya
Dimanakah “Hikmah Senja” ?....
Perlahan, kini rona merah cahyanya menghias indah bentang cakrawala kehidupan, seakan menyimpan pesan abadi perjalanan hidup manusia, mengajak kita untuk berfikir dan merenung kembali, sudah sejauh mana capaian kualitas hidup perjalanan kita hari ini, bulan, tahun yang telah berlalu.

Alhamdulillah, sudah sepatutnya kini kita bersyukur, bila hari ini masih dapat menikmati indahnya suasana senja seperti itu. Meskipun telah kita ketahui bersama, bahwa di sini, di desa tercinta ini, masih cukup banyak persoalan dan ketimpangan sosial yang belum terselesaikan, dan lain sebagainya. Seiring bergulirnya waktu, tentu semua itu insyaAllah masih akan kita urai dan bahas bersama-sama pada kesempatan berikutnya. Seiring hikmah senja, sudah menjadi tradisi masyarakat, bila senja telah berganti, adzan magrib pun mulai berkumandang di mana-mana, di Masjid dan Musholla yang sama-sama kita cintai. Sebuah tanda, bahwa kewajiban menunaikan ibadah sholat segera dilaksanakan. Adapun dalam pelaksanaannya, diantaranya ada yang dilakukan secara berjama’ah, dan ataupun yang dilakukan secara sendiri di rumah masing-masing.

Lebih lanjut, sudah menjadi tradisi masyarakat pula, bahwa pada tiap hari Kamis malam Jum’at, usai sholat magrib, di tiap Masjid dan Musholla bersemangat dalam pembacaan “Berjanjenan” (Sholawat Barjanzi, Diba’i dan lain-lain) yang bisa dinilai sebagai salah satu wujud rasa cinta dan hormat kepada baginda Rasulallah SAW. Dalam prosesnya, ada pula diantaranya yang diiringi dengan tabuhan alat-alat musik Rebana (Terbangan) sebagai salah satu warisan tradisi leluhur di bumi nusantara ini, yang tentu semakin menambah semangat, gairah, rasa haru dan kecintaan yang luar biasa.

Diantaranya adalah sebuah kelompok rebana Santri di ujung desa kita, yang menamakan dirinya “Al-Ulya” yang terdiri dari para santri muda-mudi yang terdengar indah di hati. Selain itu, tidak ketinggalan pula senyum ceria kelompok rebana TPQ Baitussalamah Dukuh Karangsari RT 004 RW 001 Desa Clering, dengan sebutan “GAS” (Gabungan Anak Shaleh) yang merupakan gabungan anak usia sekolah, yang membuktikan tidak hanya pandai Baca Tulis Al-Qur’an, tetapi juga terampil memainkan rebana. Dari gambaran tersebut, kiranya cukup untuk menjadi sebuah pertanda dan kebanggaan kita bersama, bahwa sudah sepatutnya kegiatan itu dikembangkan lebih lanjut dan mendapat dukungan dari berbagai pihak terkait.

Demikianlah sedikit untaian kabar indah yang sepatutnya kita syukuri. Meski ketika di tengah-tengah ketimpangan sosial dan lain sebagainya tak kunjung berhenti. Yakni, masih maraknya kebiasaan masyarakat desa kita yang gemar Miras dan Judi, yang tentu cukup mengganggu ketentraman masyarakat, ketertiban dan nama baik Desa tercinta.

Akhirnya, “Salam Cinta” teruntuk bagi siapa saja yang senantiasa memantulkan cahaya keindahan dan perdamaian hidup. Semoga senandung cinta kian menggema di segenap penjuru. Amin… (bersambung ke...*4)

*3) Disusun Oleh : LENTERA “Kreasi Musik Karangsari Clering”
Alamat : Dukuh Karangsari RT 003 RW 001 Desa Clering,
Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah,
Kode Pos 59454, Telp. 0857 273000 42

HIKMAH SENJA (Syair Lagu dan Konsep Karya)

HIKMAH SENJA

Oleh : LENTERA“Kreasi Musik Karangsari Clering” *2


Syair Lagu

Redup mentari senja

Pantulan duka akhir hayatmu

Menepi ‘ku sendiri

Engkau t‘lah pergi takkan kembali


Kupasrahkan diri pada illahi

Demi sang waktu yang terus berlalu

Bisikkanlah padaku kata indahmu

Jalani hidup hanya untukmu


Dimana hikmah senja

Pesan abadi kuatkan hati

Di sini ‘ku berdiri

Berpegang janji melangkah pasti


Kupasrahkan diri pada illahi

Demi sang waktu yang terus berlalu

Bisikkanlah padaku kata indahmu

Jalani hidup hanya untukmu


Redup mentari senja

Pantulan duka akhir hayatmu…


Konsep Karya

Seiring tumbuh daun bersemi, bening butir embun pun perlahan mulai memantulkan keindahannya. Pagi itu, suasana Dukuh Karangsari Desa Clering sungguh ramai dan menyenangkan. Saat sang fajar tiba, sejuk angin berhembus benar-benar terasa menyentuh hati sanubari terdalam. Bagai sebuah awal kehidupan, atau awal sebuah kelahiran, terbit sang fajar seakan menjadi sebuah pertanda, bahwa aktifitas perjalanan hidup manusia di dunia segera dimulai.

Sehubungan dengan hal itu, sudah menjadi tradisi masyarakat, bila bulan Ramadhan tiba, kegiatan keagamaan di desa Karangsari dan sekitarnya begitu semarak dan beragam. Diantaranya adalah makan sahur dan buka puasa bersama, sholat Tarawih, Tadarus dan lain sebagainya. Selain itu, tidak ketinggalan pula adalah peran aktif anak-anak dalam kegiatan “Tetek” dimalam hari, sebagai penanda bahwa makan sahur telah tiba. Yakni, sebuah tabuhan alat musik sederhana dengan cita rasa yang unik.

Lebih lanjut, sudah menjadi kebiasaan masyarakat, bila fajar tiba, dibulan Ramadhan banyak anak-anak, remaja dan orang tua yang bersemangat keluar rumah dan memenuhi jalanan guna menghirup udara segar lagi bersih. Sembari berjalan santai, terlihat anak-anak pun riang berlari-lari kecil. Sehingga suasana pun semakin indah merekah, berhias senyum dan tawa masyarakat dalam mengisi kebersamaan dan lain sebagainya.

Seiring fajar menyingsing, perlahan mentari pun mulai menampakkan keindahannya. Cerah cahyanya, seakan memancar sejuta harapan ke segenap penjuru. Memancar kerinduan suasana mesra seperti itu. Namun, kini sungguh sayang, boleh jujur dikatakan, bahwa saat fajar tiba, suasana memeriahkan bulan Ramadhan beserta semangat dan keceriaan seperti itu, sekarang sudah mulai terkikis dan menghilang, bahkan hampir tiada lagi.

Atau boleh pula dikatakan, saat fajar tiba, masyarakat sekarang sudah mulai enggan. Barangkali zaman memang sudah berubah, oleh keadaan dan suasana yang sudah tidak mendukung lagi. Mungkin, diantaranya adalah dikarenakan jalan desa yang dulu beraspal baik, kini banyak yang berlobang dan rusak, sebab terlalu lama tidak terawat dan termakan usia. Atau sangat mungkin pula, kerusakan jalan desa ini disebabkan oleh banyaknya Truck bermuatan ribuan ton tambang batu feldspar yang melintas tiap hari, bulan dan tahun yang berlalu, hingga sampai sekarang, dan tentu masih akan berlanjut ditahun-tahun mendatang sampai penambangan benar-benar habis dan berhenti total.

Demikianlah, tak terasa zaman memang telah berubah. Demikian halnya matahari, sang fajar pun telah berganti, terbit dan tenggelam seiring perjalanan hari. Sehingga pada tiap zaman, segala sesuatunya telah membawa catatan dan sejarah perjalanan hidup masing-masing.

Akhirnya, sedikit kutipan syair lagu “Hikmah Senja” ini, Ragas dan Tina pun bersenandung tanya : “Dimana hikmah senja, pesan abadi kuatkan hati, di sini kuberdiri, berpegang janji melangkah pasti, ‘tuk meraih asa, cita dan cinta yang lebih baik, dalam banyak hal. Amin… (bersambung ke...*3)


*2) Disusun Oleh : LENTERA “Kreasi Musik Karangsari Clering”

Alamat : Dukuh Karangsari RT 003 RW 001 Desa Clering,

Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah,

Kode Pos 59454, Telp. 0857 273000 42

RAGAS & TINA (Syair Lagu dan Konsep Karya)

RAGAS & TINA

Karya : LENTERA “Kreasi Musik Karangsari Clering” *1


Syair Lagu

Bagai seruling sangkakala

Bangunkanku dari tidur yang panjang

Masih adakah sebuah kemungkinan diriku dirimu

Tuk sejenak merenungi perjalanan hari ke hari, bulan, tahun yang t'lah berlalu …


Indah rembulan terbelah

Dongengan cinta anak manusia

Ragas & Tina saling mencinta


Hidup di gunung berteman rimbun daun

Bernyanyi bersama kicau burung-burung

Membentang luas hijau sawah dan ladang

Abadi tersimpan indah dalam kenangan


S'pasang mata bertemu pandang

Senyum tersipu

Ragas & Tina makin merindu


Hidup di gunung berteman rimbun daun

Bernyanyi bersama kicau burung-burung

Membentang luas hijau sawah dan ladang

Abadi tersimpan indah dalam kenangan


Kini kubaca kembali anak negri

Hidup terasing di bumi pertiwi

Rakusnya tanam ke-tidak adil-an

Tindas mereka di sawah dan ladang


Oh, Ragas dan Tina

Di sini aku berdiri

Di sini aku terlahir kembali

Sayatan-sayatan serulingmu

Ingatkan aku nenek moyangmu…


Konsep Karya

Lagu ini berkisah gambaran indah gunung Ragastina di Dukuh Karangsari Desa Clering. Ada kerinduan mengenang indahnya gunung dengan mengabadikannya ke dalam lagu dengan sentuhan dongeng cinta sepasang anak manusia yang saling mencinta : “Ragas & Tina”. Yakni, sebuah nama yang diambil dari nama gunung Ragastina ini. Gunung yang dulu dipahami sebagai anugerah Tuhan dengan indahnya panorama alam, tumbuh hijau pohon bersemi, riuh kicau burung bernyanyi, dan tergambar pula hamparan sawah dan ladang yang melingkar indah. Seiring sejuk hembusan sang bayu, senyum bahagia pun terpancar mesra usai musim panen tiba. Namun, semua itu kini telah berganti panas, gersang dan tandus oleh datangnya gerusan industri Tambang Batu Feldspar yang mulai tak ramah bagi lingkungan. Diantaranya, ribuan debu yang beterbangan di sana-sini, masuk rumah dan sekolah, yang tentu cukup mengganggu kesehatan dan lain-lain.

Lebih lanjut, sikap hidup masyarakat yang dulu dikenal santun, ramah lingkungan, sederhana, jujur, lugu dan bersahaja, perlahan ada yang mulai berganti masyarakat individualis-matrealis yang hanya mementingkan diri sendiri demi kepentingan ekonomis semata. Sehingga, tingkat penghargaan dan kepedulian pada indahnya alam mulai memudar. Masih tergambar pula dengan jelas, ketika suasana desa yang dulu damai bersahabat, anak-anak riang bermain di pematang sawah yang hijau, sembari terdengar alunan seruling anak gembala sayup terdengar damai menghibur, membawa suasana khas pedesaan yang sungguh sayang untuk dilewatkan, yang telah menjadi sebuah ciri khas alam pedesaan sebagai tradisi warisan leluhur.

Dengan suasana damai seperti itu, maka wajar bila nenek moyang kita dulu, dalam proses hidupnya banyak meninggalkan warisan tata budaya dalam karya-karyanya, dengan beragam media dan bahasa. Misal, kesenian “Gejok Lesung”, yakni sebuah rangkaian alunan nada bertalu seiring tumbukan padi yang usai dipanen adalah sebuah cerminan sikap hidup gotong-royong dalam menumbuk padi yang riang gembira, penuh semangat dan cita rasa estetis yang khas. Atau, misalnya “Local Genius” pada karya dongeng-dongeng yang melegenda tembus zaman, yang masih dapat kita nikmati sampai sekarang lengkap dengan berbagai permainan anak-anak yang sangat beragam dan mendidik.

Bila dicermati lebih jauh, kemunculan semua itu, tentu merupakan sebuah rangkaian proses kreatif kesadaran hidup yang terencana, dalam mengekspresikan suatu peristiwa, yang menyimpan pesan sarat makna : baik moral, sosial maupun spiritual masyarakat. Sehingga pada akhirnya bisa disimpulkan dengan bijak, bahwa semua itu merupakan bukti nyata sumbangsih tiap generasi di zamannya dalam rangka untuk mempersembahkan yang terbaik yang bisa berawal dari : apa yang dilihat, didengar, dirasa dan lain sebagainya yang mengendap dalam hati dan tumbuh dalam jiwa masyarakat desa. (bersambung ke...*2)


*1) Disusun Oleh : LENTERA “Kreasi Musik Karangsari Clering”

Alamat : Dukuh Karangsari RT 003 RW 001 Desa Clering,

Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah,

Kode Pos 59454, Telp. 0857 273000 42

LENTERA "Kreasi Musik Karangsari Clering"

Judul Karya Lagu :
  1. Ragas & Tina
  2. Hikmah Senja
  3. Salam Cinta
  4. Pantulan Jiwa
  5. Nomor Satu
  6. Kampung Halaman
  7. Kalah Taruhan
  8. Tanpa Nama
  9. Sudut Trotoar
  10. Santri Muda
  11. Untuk Alif
  12. Kabar Api Untuk Anakku
Catatan :
Karya Lagu yang berjudul "Kalah Taruhan" yakni berisi tentang gambaran judi voli yang ada di Dukuh Karangsari - Desa Clering - Kecamatan Donorojo - Kabupaten Jepara, pernah dipentaskan bersama SOBAYA Music Etnis pada pengajian Macapat Syafaat Emha Ainun Nadjib di TKIT Alhamdulillah Kasihan Bantul Yogyakarta pada tanggal 17 April 2008.

Senin, 09 Agustus 2010

HYMNE SMA ISLAM KELING

HYMNE SMA ISLAM KELING
(Karya : Bp. Miftahul Kamaluddin/ Guru Bahasa Indonesia)

Berjalan kita ke hulu
Berlayar kita ke hilir
Berdayung kita ke pulau asa
Bersampan sampai tujuan

Derap langkah keimanan
Tuk bina akhlaq mulia
Derap langkah keilmuan
Kita 'kan jadi bisa

Takkan lari gunung dikejar
Tak mungkin pintar tanpa belajar
Kemana angin 'kan berhembus
Kita kokoh berdiri

Sekolahku yang tercinta
SMA Islam Keling
Di sini 'ku menuntut ilmu
Bertabur bintang masa depan

Ya Allah Maha Pengasih
Kabulkan doa-doaku
Semoga hari depanku
Iman dan ilmu menyatu

Jumat, 06 Agustus 2010

JEMBUL TULAKAN - DONOROJO (Karya Desain Poster Siswa SMA Islam Keling)

JEMBATAN KELET (Karya Desain Poster Siswa SMA Islam Keling)