Cakar adalah kependekan dari Cah Karangasri, yaitu kelompok pemuda kreatif yang lahir di Dukuh Karangsari, Desa Clering, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara. Kelompok ini berdiri pada tahun 2006 yang beranggotakan puluhan pemuda yang dipimpin oleh Tonny Anggoro, SE. Kegiatan CAKAR antara lain : aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan, kegiatan sosial, pendidikan dan ekonomi. Misalnya, aktif dalam memeriahkan Takbir Keliling menyambut malam Idhul Fitri dengan membuat karya kerajinan/ miniatur untuk karnaval. Selain itu, kelompok ini juga terampil dan inovatif dalam membuat desain spanduk, stiker, kaos dan lain sebagainya.
Jumat, 27 Agustus 2010
CAKAR (Cah Karangsari)
Cakar adalah kependekan dari Cah Karangasri, yaitu kelompok pemuda kreatif yang lahir di Dukuh Karangsari, Desa Clering, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara. Kelompok ini berdiri pada tahun 2006 yang beranggotakan puluhan pemuda yang dipimpin oleh Tonny Anggoro, SE. Kegiatan CAKAR antara lain : aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan, kegiatan sosial, pendidikan dan ekonomi. Misalnya, aktif dalam memeriahkan Takbir Keliling menyambut malam Idhul Fitri dengan membuat karya kerajinan/ miniatur untuk karnaval. Selain itu, kelompok ini juga terampil dan inovatif dalam membuat desain spanduk, stiker, kaos dan lain sebagainya.
Sabtu, 21 Agustus 2010
Patah Untuk Tumbuh - Karya Seni Kriya Kayu
Lampu Hias/ Jatuh Cinta (Karya Seni Kriya Kayu)
Introspeksi (Karya Seni Kriya Kayu)

Karya : Frengky Widias Sandy
Bahan : Kayu Jati
Ukuran : 90 x 90 x 3 cm
Teknik : Kerja Bangku, Jiq Zaw dan Ukir
Finishing : Politur dan Air Brush
Konsep
Matahari sebagai benda di langit yang bersinar sangat terang merupakan objek alam yang memiliki sejumlah tanda, salah satunya adalah sebagai simbol pencerahan, yang membawa manusia pada pemahaman bahwa dengan sinarnya yang menerangi kehidupan merupakan isyarat, petunjuk kepada suatu sumber transenden nilai-nilai tauhid atau ketuhanan. Matahari adalah nikmat Allah swt untuk kehidupan manusia yang dapat bermakna sebagai pelajaran hidup (Q.S. Asy Syams : 1-10). Makna ini mengilhami manusia dalam menentukan jalan hidupnya, dan memberi dorongan manusia untuk membersihkan jiwa dan raganya agar mendapat keberuntungan kehidupan di dunia dan akhirat, “dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari)?” (Q.S. An Naba’: 13).
Deskripsi Karya
Apabila matahari tergambar bersinar di atas pantai sebuah kepulauan yang hijau tentu akan mengisyaratkan suasana segar. Tetapi bila digambarkan di atas padang pasir tentu akan mengisyaratkan suasana yang panas.
Penggambaran matahari yang bersianar merah dengan garis sinar yang awut-awutan merupakan simbol matahari yang memiliki sifat kuat, yang bercahaya maha dahsyat, sekaligus memiliki karakteristik panas yang menyengat dan membakar. Matahari merupakan benda yang menimbulkan rasa takut.
Di daerah yang beriklim tropis seperti di Indonesia, yang terletak dekat dengan garis khatulistiwa, akan menerima panas dalam jumlah atau kuantitas yang lebih besar, sehingga temperatur udara akan selalu tinggi. Tiap-tiap tempat, dalam satu tahun akan mendapatkan 2 kali matahari tegak lurus pada jam 12 siang.
Pemanasan bumi, akibat dari cahaya matahari akan berpengaruh langsung pada manusia. Penggambaran bukit tandus, pohon kering dan barisan manusia berjalan mambungkuk adalah suatu simbol yang mengisyaratkan pada nuansa panas yang sedang melanda.
Kekuatan matahari yang luar biasa, memaksa manusia untuk mencari sesuatu yang lebih menyejukkan. Penggambaran barisan manusia yang berjalan membungkuk adalah simbol intropeksi mencari kecerahan hidup.
Sinar Kasih Matahari (Karya Seni Kriya Kayu)

Sinar Kasih Matahari
Karya : Frengky Widias Sandy
Bahan : Kayu Jati
Ukuran : 90 x 60 x 3 cm
Teknik : Kerja Bangku, Jiq Zaw dan Ukir
Finishing : Politur dan Air Brush
Koleksi : Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta
Konsep Karya
Matahari sebagai benda di langit yang bersinar sangat terang merupakan objek alam yang memiliki sejumlah tanda, salah satunya adalah sebagai simbol pencerahan, yang membawa manusia pada pemahaman bahwa dengan sinarnya yang menerangi kehidupan merupakan isyarat, petunjuk kepada suatu sumber transenden nilai-nilai tauhid atau ketuhanan. Matahari adalah nikmat Allah swt untuk kehidupan manusia yang dapat bermakna sebagai pelajaran hidup (Q.S. Asy Syams : 1-10). Makna ini mengilhami manusia dalam menentukan jalan hidupnya, dan memberi dorongan manusia untuk membersihkan jiwa dan raganya agar mendapat keberuntungan kehidupan di dunia dan akhirat, “dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari)?” (Q.S. An Naba’: 13).
Deskripsi Karya
Negara Indonesia sebagai negara agraris, amatlah wajar bila populasi petani lebih banyak dibandingkan dengan profesi yang lainnya. Petani identik dengan simbol-simbol wong cilik yang jauh dari kemewahan, tetapi lebih banyak menceritakan perjuangan serta kegigihan hidup yang sesungguhnya.
Hkmah Senja ?... (Karya Seni Kriya Kayu)
Hikmah Senja ?...
Karya : Frengky Widias Sandy
Ukuran : 90 x 90 x 3 cm
Teknik : Kerja Bangku, Jiq Zaw dan Ukir
Finishing : Politur dan Air Brush
Konsep
Matahari sebagai benda di langit yang bersinar sangat terang merupakan objek alam yang memiliki sejumlah tanda, salah satunya adalah sebagai simbol pencerahan, yang membawa manusia pada pemahaman bahwa dengan sinarnya yang menerangi kehidupan merupakan isyarat, petunjuk kepada suatu sumber transenden nilai-nilai tauhid atau ketuhanan. Matahari adalah nikmat Allah swt untuk kehidupan manusia yang dapat bermakna sebagai pelajaran hidup (Q.S. Asy Syams : 1-10). Makna ini mengilhami manusia dalam menentukan jalan hidupnya, dan memberi dorongan manusia untuk membersihkan jiwa dan raganya agar mendapat keberuntungan kehidupan di dunia dan akhirat, “dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari)?” (Q.S. An Naba’: 13).
Deskripsi Karya
Bagi manusia yang tinggal di bumi, matahari dikatakan terbit dari timur dan terbenam di sebelah barat. Karena bumi bergerak atau berputar dari barat ke timur, maka di timur bisa diartikan sebagai simbol kelahiran dan barat diartikan sebagai kematian. Perjalanan hidup manusia dari lahir, anak-anak, remaja, dewasa dan kemudian mati adalah serangkaian proses yang lazim dilalui manusia.
Penggambaran matahari pada karya ini divisualisasikan dengan figur manusia berkepala matahari yang terpelanting, merupakan sebuah isyarat bahwa cepat atau lambat kematian akan menjemput manusia, terbit dan tenggelam adalah sesuatu kepastian.
Hal ini membawa pengertian kepada manusia untuk segera sadar diri bahwa alam telah mengisyaratkan fenomena matahari dalam terbit dan tenggelam. Dapatkah manusia mengambil pelajaran atau pengalaman hidupnya dari hikmah senja ?...
Cinta Kasih (Karya Seni Kriya Kayu)

Karya : Frengky Widias Sandy
Bahan : Kayu Jati
Ukuran : 130 x 90 x 3 cm
Teknik : Kerja Bangku, Jiq Zaw dan Ukir
Finishing : Politur da Air Brush
Koleksi : Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta
Konsep
Matahari sebagai benda di langit yang bersinar sangat terang merupakan objek alam yang memiliki sejumlah tanda, salah satunya adalah sebagai simbol pencerahan, yang membawa manusia pada pemahaman bahwa dengan sinarnya yang menerangi kehidupan merupakan isyarat, petunjuk kepada suatu sumber transenden nilai-nilai tauhid atau ketuhanan. Matahari adalah nikmat Allah swt untuk kehidupan manusia yang dapat bermakna sebagai pelajaran hidup (Q.S. Asy Syams : 1-10). Makna ini mengilhami manusia dalam menentukan jalan hidupnya, dan memberi dorongan manusia untuk membersihkan jiwa dan raganya agar mendapat keberuntungan kehidupan di dunia dan akhirat, “dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari)?” (Q.S. An Naba’: 13).
Deskripsi Karya
Satu Tujuan (Karya Seni Kriya Kayu)

Karya : Frengky Widias Sandy
Bahan : Kayu Jati
Ukuran : 130 x 90 x 3 cm
Teknik : Kerja Bangku, Jiq Zaw dan Ukir
Finishing : Politur dan Air Brush
Koleksi : Warung Makan Mak Siti Jogja
Konsep
Matahari sebagai benda di langit yang bersinar sangat terang merupakan objek alam yang memiliki sejumlah tanda, salah satunya adalah sebagai simbol pencerahan, yang membawa manusia pada pemahaman bahwa dengan sinarnya yang menerangi kehidupan merupakan isyarat, petunjuk kepada suatu sumber transenden nilai-nilai tauhid atau ketuhanan. Matahari adalah nikmat Allah swt untuk kehidupan manusia yang dapat bermakna sebagai pelajaran hidup (Q.S. Asy Syams : 1-10). Makna ini mengilhami manusia dalam menentukan jalan hidupnya, dan memberi dorongan manusia untuk membersihkan jiwa dan raganya agar mendapat keberuntungan kehidupan di dunia dan akhirat, “dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari)?” (Q.S. An Naba’: 13).
Deskripsi Karya
Dengan ilmu, hidup manusia menjadi mudah. Namun akibat adanya ilmu, juga dapat membantu manusia untuk tujuan yang kurang terpuji, bahkan dapat menjerumuskan kepada perbuatan-perbuatan yang terlarang. Ilmu banyak disalahgunakan, sehingga merugikan esensi hidupnya, Karena mengotori eksistensi hakikat manusia sebagai khalifah yang membawa kebenaran nilai yang diberikan Allah swt.
Penggambaran pancaran sinar matahari yang berwarna kuning kemerahan atau lebih mirip dengan bola api yang berpijar merupakan simbol ilmu yang mampu menerangi hidup, pancarannya yang dinamis memengisyaratkan ada pusaran yang memusat atau gerakan aktif yang membawa kehidupan dibawahnya untuk segera menuju pada hakikat sinar tersebut, cahaya dari atas cahaya, sebagai tujuan, sumber ilmu dalam menuntun pada nilai tauhid yang sebenarnya.
Generasi Baru (Karya Seni Kriya Kayu)

Generasi Baru
Karya : Frengky Widias Sandy
Bahan : Kayu Jati
Ukuran : 90 x 90 x 3 cm
Teknik : Kerja Bangku, Jiq Zaw dan Ukir
Finishing : Politur dan Air Brush
Konsep
Matahari sebagai benda di langit yang bersinar sangat terang merupakan objek alam yang memiliki sejumlah tanda, salah satunya adalah sebagai simbol pencerahan, yang membawa manusia pada pemahaman bahwa dengan sinarnya yang menerangi kehidupan merupakan isyarat, petunjuk kepada suatu sumber transenden nilai-nilai tauhid atau ketuhanan. Matahari adalah nikmat Allah swt untuk kehidupan manusia yang dapat bermakna sebagai pelajaran hidup (Q.S. Asy Syams : 1-10). Makna ini mengilhami manusia dalam menentukan jalan hidupnya, dan memberi dorongan manusia untuk membersihkan jiwa dan raganya agar mendapat keberuntungan kehidupan di dunia dan akhirat, “dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari)?” (Q.S. An Naba’: 13).
Pencerahan (Karya Seni Kriya Kayu)

Karya : Frengky Widias Sandy
Ukuran : 130 x 90 x 3 cm
Teknik : Kerja Bangku, Jiq Zaw, Bubut dan Ukir
Finishing : Politur dan Air Brush
Konsep
Matahari sebagai benda di langit yang bersinar sangat terang merupakan objek alam yang memiliki sejumlah tanda, salah satunya adalah sebagai simbol pencerahan, yang membawa manusia pada pemahaman bahwa dengan sinarnya yang menerangi kehidupan merupakan isyarat, petunjuk kepada suatu sumber transenden nilai-nilai tauhid atau ketuhanan. Matahari adalah nikmat Allah swt untuk kehidupan manusia yang dapat bermakna sebagai pelajaran hidup (Q.S. Asy Syams : 1-10). Makna ini mengilhami manusia dalam menentukan jalan hidupnya, dan memberi dorongan manusia untuk membersihkan jiwa dan raganya agar mendapat keberuntungan kehidupan di dunia dan akhirat, “dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari)?” (Q.S. An Naba’: 13).
Senin, 16 Agustus 2010
SALAM CINTA (Syair Lagu dan Konsep Karya)
Oleh : LENTERA“Kreasi Musik Karangsari Clering” *3
Syair Lagu
Arti hadirmu di jiwaku
Bawa diriku terbang tinggi
Di indahmu…
Anugrah cinta penuh pesona
Karunia indah sang pencipta
Isi dunia…
Salam cintaku untuk segala
Ungkapan rasa betik jiwa
Senandung cinta kian menggema
Ribuan nada terjalin makna
Salam cinta, salam cinta…
Salam cinta untuk segala
Salam cintaku untuk segala
Ungkapan rasa betik jiwa
Senandung cinta kian menggema
Ribuan nada terjalin makna
Salam cinta, salam cinta…
Salam cinta untuk segala
Arti hadirmu di jiwaku
Bawa diriku terbang tinggi
Di indahmu…
Konsep Karya
Alamat : Dukuh Karangsari RT 003 RW 001 Desa Clering,
Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah,
Kode Pos 59454, Telp. 0857 273000 42
HIKMAH SENJA (Syair Lagu dan Konsep Karya)
HIKMAH SENJA
Oleh : LENTERA“Kreasi Musik Karangsari Clering” *2
Syair Lagu
Redup mentari senja
Pantulan duka akhir hayatmu
Menepi ‘ku sendiri
Engkau t‘lah pergi takkan kembali
Kupasrahkan diri pada illahi
Demi sang waktu yang terus berlalu
Bisikkanlah padaku kata indahmu
Jalani hidup hanya untukmu
Dimana hikmah senja
Pesan abadi kuatkan hati
Di sini ‘ku berdiri
Berpegang janji melangkah pasti
Kupasrahkan diri pada illahi
Demi sang waktu yang terus berlalu
Bisikkanlah padaku kata indahmu
Jalani hidup hanya untukmu
Redup mentari senja
Pantulan duka akhir hayatmu…
Konsep Karya
Seiring tumbuh daun bersemi, bening butir embun pun perlahan mulai memantulkan keindahannya. Pagi itu, suasana Dukuh Karangsari Desa Clering sungguh ramai dan menyenangkan. Saat sang fajar tiba, sejuk angin berhembus benar-benar terasa menyentuh hati sanubari terdalam. Bagai sebuah awal kehidupan, atau awal sebuah kelahiran, terbit sang fajar seakan menjadi sebuah pertanda, bahwa aktifitas perjalanan hidup manusia di dunia segera dimulai.
Sehubungan dengan hal itu, sudah menjadi tradisi masyarakat, bila bulan Ramadhan tiba, kegiatan keagamaan di desa Karangsari dan sekitarnya begitu semarak dan beragam. Diantaranya adalah makan sahur dan buka puasa bersama, sholat Tarawih, Tadarus dan lain sebagainya. Selain itu, tidak ketinggalan pula adalah peran aktif anak-anak dalam kegiatan “Tetek” dimalam hari, sebagai penanda bahwa makan sahur telah tiba. Yakni, sebuah tabuhan alat musik sederhana dengan cita rasa yang unik.
Lebih lanjut, sudah menjadi kebiasaan masyarakat, bila fajar tiba, dibulan Ramadhan banyak anak-anak, remaja dan orang tua yang bersemangat keluar rumah dan memenuhi jalanan guna menghirup udara segar lagi bersih. Sembari berjalan santai, terlihat anak-anak pun riang berlari-lari kecil. Sehingga suasana pun semakin indah merekah, berhias senyum dan tawa masyarakat dalam mengisi kebersamaan dan lain sebagainya.
Seiring fajar menyingsing, perlahan mentari pun mulai menampakkan keindahannya. Cerah cahyanya, seakan memancar sejuta harapan ke segenap penjuru. Memancar kerinduan suasana mesra seperti itu. Namun, kini sungguh sayang, boleh jujur dikatakan, bahwa saat fajar tiba, suasana memeriahkan bulan Ramadhan beserta semangat dan keceriaan seperti itu, sekarang sudah mulai terkikis dan menghilang, bahkan hampir tiada lagi.
Atau boleh pula dikatakan, saat fajar tiba, masyarakat sekarang sudah mulai enggan. Barangkali zaman memang sudah berubah, oleh keadaan dan suasana yang sudah tidak mendukung lagi. Mungkin, diantaranya adalah dikarenakan jalan desa yang dulu beraspal baik, kini banyak yang berlobang dan rusak, sebab terlalu lama tidak terawat dan termakan usia. Atau sangat mungkin pula, kerusakan jalan desa ini disebabkan oleh banyaknya Truck bermuatan ribuan ton tambang batu feldspar yang melintas tiap hari, bulan dan tahun yang berlalu, hingga sampai sekarang, dan tentu masih akan berlanjut ditahun-tahun mendatang sampai penambangan benar-benar habis dan berhenti total.
Demikianlah, tak terasa zaman memang telah berubah. Demikian halnya matahari, sang fajar pun telah berganti, terbit dan tenggelam seiring perjalanan hari. Sehingga pada tiap zaman, segala sesuatunya telah membawa catatan dan sejarah perjalanan hidup masing-masing.
Akhirnya, sedikit kutipan syair lagu “Hikmah Senja” ini, Ragas dan Tina pun bersenandung tanya : “Dimana hikmah senja, pesan abadi kuatkan hati, di sini kuberdiri, berpegang janji melangkah pasti, ‘tuk meraih asa, cita dan cinta yang lebih baik, dalam banyak hal. Amin… (bersambung ke...*3)
*2) Disusun Oleh : LENTERA “Kreasi Musik Karangsari Clering”
Alamat : Dukuh Karangsari RT 003 RW 001 Desa Clering,
Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah,
Kode Pos 59454, Telp. 0857 273000 42
RAGAS & TINA (Syair Lagu dan Konsep Karya)
RAGAS & TINA
Karya : LENTERA “Kreasi Musik Karangsari Clering” *1
Syair Lagu
Bagai seruling sangkakala
Bangunkanku dari tidur yang panjang
Masih adakah sebuah kemungkinan diriku dirimu
‘Tuk sejenak merenungi perjalanan hari ke hari, bulan, tahun yang t'lah berlalu …
Indah rembulan terbelah
Dongengan cinta anak manusia
Ragas & Tina saling mencinta
Hidup di gunung berteman rimbun daun
Bernyanyi bersama kicau burung-burung
Membentang luas hijau sawah dan ladang
Abadi tersimpan indah dalam kenangan
S'pasang mata bertemu pandang
Senyum tersipu
Ragas & Tina makin merindu
Hidup di gunung berteman rimbun daun
Bernyanyi bersama kicau burung-burung
Membentang luas hijau sawah dan ladang
Abadi tersimpan indah dalam kenangan
Kini kubaca kembali anak negri
Hidup terasing di bumi pertiwi
Rakusnya tanam ke-tidak adil-an
Tindas mereka di sawah dan ladang
Oh, Ragas dan Tina
Di sini aku berdiri
Di sini aku terlahir kembali
Sayatan-sayatan serulingmu
Ingatkan aku nenek moyangmu…
Konsep Karya
Lagu ini berkisah gambaran indah gunung Ragastina di Dukuh Karangsari Desa Clering. Ada kerinduan mengenang indahnya gunung dengan mengabadikannya ke dalam lagu dengan sentuhan dongeng cinta sepasang anak manusia yang saling mencinta : “Ragas & Tina”. Yakni, sebuah nama yang diambil dari nama gunung Ragastina ini. Gunung yang dulu dipahami sebagai anugerah Tuhan dengan indahnya panorama alam, tumbuh hijau pohon bersemi, riuh kicau burung bernyanyi, dan tergambar pula hamparan sawah dan ladang yang melingkar indah. Seiring sejuk hembusan sang bayu, senyum bahagia pun terpancar mesra usai musim panen tiba. Namun, semua itu kini telah berganti panas, gersang dan tandus oleh datangnya gerusan industri Tambang Batu Feldspar yang mulai tak ramah bagi lingkungan. Diantaranya, ribuan debu yang beterbangan di sana-sini, masuk rumah dan sekolah, yang tentu cukup mengganggu kesehatan dan lain-lain.
Lebih lanjut, sikap hidup masyarakat yang dulu dikenal santun, ramah lingkungan, sederhana, jujur, lugu dan bersahaja, perlahan ada yang mulai berganti masyarakat individualis-matrealis yang hanya mementingkan diri sendiri demi kepentingan ekonomis semata. Sehingga, tingkat penghargaan dan kepedulian pada indahnya alam mulai memudar. Masih tergambar pula dengan jelas, ketika suasana desa yang dulu damai bersahabat, anak-anak riang bermain di pematang sawah yang hijau, sembari terdengar alunan seruling anak gembala sayup terdengar damai menghibur, membawa suasana khas pedesaan yang sungguh sayang untuk dilewatkan, yang telah menjadi sebuah ciri khas alam pedesaan sebagai tradisi warisan leluhur.
Dengan suasana damai seperti itu, maka wajar bila nenek moyang kita dulu, dalam proses hidupnya banyak meninggalkan warisan tata budaya dalam karya-karyanya, dengan beragam media dan bahasa. Misal, kesenian “Gejok Lesung”, yakni sebuah rangkaian alunan nada bertalu seiring tumbukan padi yang usai dipanen adalah sebuah cerminan sikap hidup gotong-royong dalam menumbuk padi yang riang gembira, penuh semangat dan cita rasa estetis yang khas. Atau, misalnya “Local Genius” pada karya dongeng-dongeng yang melegenda tembus zaman, yang masih dapat kita nikmati sampai sekarang lengkap dengan berbagai permainan anak-anak yang sangat beragam dan mendidik.
Bila dicermati lebih jauh, kemunculan semua itu, tentu merupakan sebuah rangkaian proses kreatif kesadaran hidup yang terencana, dalam mengekspresikan suatu peristiwa, yang menyimpan pesan sarat makna : baik moral, sosial maupun spiritual masyarakat. Sehingga pada akhirnya bisa disimpulkan dengan bijak, bahwa semua itu merupakan bukti nyata sumbangsih tiap generasi di zamannya dalam rangka untuk mempersembahkan yang terbaik yang bisa berawal dari : apa yang dilihat, didengar, dirasa dan lain sebagainya yang mengendap dalam hati dan tumbuh dalam jiwa masyarakat desa. (bersambung ke...*2)
*1) Disusun Oleh : LENTERA “Kreasi Musik Karangsari Clering”
Alamat : Dukuh Karangsari RT 003 RW 001 Desa Clering,
Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah,
Kode Pos 59454, Telp. 0857 273000 42
LENTERA "Kreasi Musik Karangsari Clering"
- Ragas & Tina
- Hikmah Senja
- Salam Cinta
- Pantulan Jiwa
- Nomor Satu
- Kampung Halaman
- Kalah Taruhan
- Tanpa Nama
- Sudut Trotoar
- Santri Muda
- Untuk Alif
- Kabar Api Untuk Anakku
Karya Lagu yang berjudul "Kalah Taruhan" yakni berisi tentang gambaran judi voli yang ada di Dukuh Karangsari - Desa Clering - Kecamatan Donorojo - Kabupaten Jepara, pernah dipentaskan bersama SOBAYA Music Etnis pada pengajian Macapat Syafaat Emha Ainun Nadjib di TKIT Alhamdulillah Kasihan Bantul Yogyakarta pada tanggal 17 April 2008.
Senin, 09 Agustus 2010
HYMNE SMA ISLAM KELING
(Karya : Bp. Miftahul Kamaluddin/ Guru Bahasa Indonesia)
Berjalan kita ke hulu
Berlayar kita ke hilir
Berdayung kita ke pulau asa
Bersampan sampai tujuan
Derap langkah keimanan
Tuk bina akhlaq mulia
Derap langkah keilmuan
Kita 'kan jadi bisa
Takkan lari gunung dikejar
Tak mungkin pintar tanpa belajar
Kemana angin 'kan berhembus
Kita kokoh berdiri
Sekolahku yang tercinta
SMA Islam Keling
Di sini 'ku menuntut ilmu
Bertabur bintang masa depan
Ya Allah Maha Pengasih
Kabulkan doa-doaku
Semoga hari depanku
Iman dan ilmu menyatu














