Senin, 27 September 2010

Peta Konsep - Periode Seni Rupa Indonesia


Gunung Ragas Clering - Donorojo - Jepara

Desain Kaos - Kiki Faisal Mabrur

Desain Spanduk - Lutfi Yahya

Desain Logo - Ahmad Fernando Surya Pratama













Karya : Ahmad Fernando Surya Pratama
Tempat/ Tanggal Lahir : Jepara, 17 September 1997
Pendidikan : SMP Negeri 1 Donorojo
Nama Orang Tua/ Wali : Jumanta
Alamat : Dukuh Karangsari RT 003 RW 001 Desa Clering, Kecamatan Donorojo,
Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah, Kode Pos 59454
NIS LKP LENTERA : 005/2009

Desain Stempel - Ahmad Andriyan

Untaian Bijak - Ali Bin Abi Thalib













Renungkanlah...
Dosa terbesar adalah ketakutan
Rekreasi terbaik adalah bekerja
Musibah terbesar adalah keputusasaan
Keberanian terbesar adalah kesabaran
Guru terbaik adalah pengalaman
Misteri terbesar adalah kematian
Kehormatan terbesar adalah kesetiaan
Karunia terbesar adalah anak yang sholeh
Sumbangan terbesar adalah berpartisipasi
Modal terbesar adalah kemandirian

(Ali Bin Abi Thalib)

Desain Poster "Garasi Sell" Karangsari Clering

Teknik Penjarian Keyboard Komputer - LPK Lentera Clering

Teknik Penjarian Keyboard Piano - LPK Lentera Clering

Qasidah Burdah - LPK Lentera Clering

Pentas Rebana TPQ Baitussalamah Clering - GAS (Gabungan Anak Shaleh)

Selasa, 21 September 2010

Kepada Seniman Jogja ?,,,

Apa kabar mas Miko Malioboro, mas Gatot Widodo, mas P.Trus, Nur Hananta ?...
Waktu itu, motor kita lambat merayap dan penuh karat...

Pentas Gambang Suling - LPK Lentera Clering di SEC Tulakan Donorojo


Pentas Yamko Rambe Yamko - LPK Lentera Clering di SEC Tulakan Donorojo


Pentas Hymne Guru - LPK Lentera Clering di SEC Tulakan Donorojo


Mewarnai Lambang Pemerintahan Pusat - Garuda Pancasila


Mewarnai Lambang Provinsi Jawa Tengah


Mewarnai Lambang Kabupaten Jepara


Senin, 20 September 2010

Arsip Surat Pengajuan Lambang Kepada Bupati Jepara


Peta Kecamatan Donorojo dan Keling


Mewarnai Lambang Desa Clering


Brosur Lambang Clering


Peta Kabupaten Jepara


Mewarnai Lambang Kecamatan Donorojo


Brosur Lambang Donorojo


Jepara Zaman Sekarang ?!...









Konsep

Pada masa lampau, oleh para pakar dikemukakan, Jepara dikenal sebagai kota penting di tanah Jawa. Dalam berita-berita Cina zaman dinasti T’ang disebutkan bahwa pada tahun 674 Masehi, Jawa dipimpin oleh seorang ratu bernama Shima. Kerajaannya bernama Kalingga (abad ke-7 sampai abad 10), yakni berada di Jawa Tengah bagian utara, tepatnya di Jepara. Ia dikenal memimpin kerajaan dengan sangat keras dan tegas, sehingga apabila terdapat barang yang tercecer di tengah jalan tidak seorangpun berani memungutnya kecuali pemiliknya sendiri. Beliau juga dikenal memerintah rakyat dan kerajaannya dengan arif, adil dan bijaksana. Keadilan dan kearifan itu terlihat pada kepatuhannya menegakkan hukum dan peraturan yang telah ditetapkan oleh kerajaan, sehingga keputusan-keputusan yang diambil tidak menimbulkan keraguan dalam pelaksanaannya. Pelaksanaan pemerintahan yang kuat seperti itu menjadikan dirinya sangat disegani, tidak hanya oleh rakyatnya sendiri tetapi juga oleh bangsa-bangsa lain. Dalam suatu riwayat dijelaskan, ketika raja Ta-Che di Arab mendengar kearifan dan keadilan Ratu Shima, ia mengutus seorang hulubalang meletakkan pundi-pundi berisi dinar di tengah jalan. Dikemukakan, bahwa selama tiga tahun, orang-orang yang lewat tidak seorang pun yang berani memungut pundi-pundi tersebut. Ketika Putra Mahkota berjalan-jalan, secara tidak sengaja kakinya menyentuh pundi-pundi itu. Oleh karena kesalahannya itu, Ratu Shima memerintahkan agar putra mahkota dihukum penggal. Berdasarkan pertimbangan ahli hukum dan para pembesar kerajaan, akhirnya kaki Putra Mahkota diamputasi sebagai hukuman atas kesalahannya, sebab kakinyalah yang bersalah. Setelah mendengar hal itu, raja Ta-Che merasa segan dan tidak berani menyerang Ratu Shima.

Jauh sesudah masa pemerintahan Ratu Shima berlalu, tenggang 9 abad, yakni pada abad ke-16, di Jepara terdapat pula seorang tokoh wanita yang sangat terkenal yaitu Ratu Kalinyamat. Beliau adalah putra ketiga dari enam bersaudara keturunan Sultan Trenggana dari Demak. Ratu Kalinyamat menikah dengan Sunan Hadirin, yakni seorang keturunan Cina bernama Wintang yang telah menjadi Islam berkat bimbingan Sunan Kudus. Perkawinan antara petualang-petualang asing dengan gadis-gadis kalangan bangsawan tinggi seperti itu merupakan peristiwa yang dianggap biasa, tetapi dengan syarat kedua belah pihak telah memeluk agama Islam sebagai pedoman hidup mereka. Pada zaman pemerintahan Ratu Kalinyamat, Jepara telah berkembang menjadi kota pelabuhan yang penting bagi dunia pelayaran, karena mampu menampung kapal besar bermuatan 200 ton atau lebih.

Bersamaan dengan perkembangan pelabuhan itu, juga dikembangkan unit usaha industri galangan kapal. Pada abad ke-16, industri galangan kapal di Jawa sangat terkenal di Asia Tenggara. Keahlian arsitek kapal Jawa juga sangat terkenal. Atas keahlian mereka itu, pada tahun 1512 Albuquerque membawa 60 tukang yang cakap dari Jawa untuk memperbaiki kapal-kapal Portugis yang rusak di pantai daratan India. Sehubungan dengan peran Jepara sebagai pelabuhan yang baik dan aman untuk berlabuhnya kapal-kapal niaga besar, dan juga untuk menunjang aktivitas dan ekspedisi militer, maka kebutuhan kapal menjadi meningkat. Oleh karena itu, Ratu Kalinyamat bersama suaminya membangun dan mengembangkan industri galangan kapal besar-besaran yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Tenaga tersebut melibatkan Arsitek, Tukang Kayu dan para Pekerja Kasar, yang dipimpin langsung oleh Sunan Hadirin dan Ratu Kalinyamat. Berbagai peninggalannya dan makam beliau masih dapat kita lihat sampai sekarang di Masjid dan Makam Mantingan Jepara.

Tiga abad sesudah pemerintahan Ratu Kalinyamat, muncul R.A. Kartini pada abad ke-19 dan ke-20 yang memiliki kualifikasi sebagai figur pejuang gigih dan menaruh perhatian besar di bidang sosial, politik, ekonomi, seni, budaya dan agama. Ia lahir di Mayong pada tahun 1879, pada waktu berlanngsungnya hegemoni kolonial Belanda. Peranan R.A. Kartini sebagai pemimpin gerakan wanita menembus abad ke-19 dan memasuki awal abad ke-20. Gaung perjuangannya terasa sampai sekarang. Ia adalah putra keempat dari delapan bersaudara dari putra R.M.A.A. Sosroningrat, seorang Bupati Jepara yang memerintah sejak tahun 1880 sampai tahun 1905. Gelar Adipati baru diperoleh R.M.A.A. Sosroningrat pada tahun 1895, setelah ia menjabat sebagai Bupati Jepara selama 15 tahun. Selama R.A. Kartini masih sekolah, ia sangat produktif menuangkan gagasan dan pemikirannya dalam berbagai bidang. Pikiran-pikiran R.A. Kartini dikomunikasikan kepada Ny. Abendanon, orang Belanda yang diakui oleh R.A. Kartini sebagai ibu angkat, dan kepada teman-teman sejawatnya orang-orang Belanda. Sampai sekarang, berkas surat-suratnya masih tersimpan dengan baik di negeri Belanda. Berkat surat-suratnya yang cemerlang dan menawan hati itu, R.A. Kartini menjadi orang terkenal di kalangan masyarakat terdidik Eropa, khususnya di negeri Belanda. Ia dipandang sebagai seorang timur yang memiliki pemikiran cerdas, cemerlang, dan berbobot. Berkat jasa dan perjuangan beliau, akhirnya R.A. Kartini mendapat penghargaan Bangsa Indonesia sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional.

Lalu siapakah pemimpin zaman sekarang ?!....