Rabu, 28 Juli 2010

Logo Toko GARASI SELL Karangasari Clering

LAMBANG SMA ISLAM KELING

Selasa, 27 Juli 2010

WISATA JEPARA

KOTA JEPARA

Oleh : Frengky Widias Sandy*


Sejarah Singkat

Pada masa lampau, oleh para pakar dikemukakan, Jepara dikenal sebagai kota penting di tanah Jawa. Dalam berita-berita Cina zaman dinasti T’ang disebutkan bahwa pada tahun 674 Masehi, Jawa dipimpin oleh seorang ratu bernama Shima. Kerajaannya bernama Kalingga (abad ke-7 sampai abad 10), yakni berada di Jawa Tengah bagian utara, tepatnya di Jepara. Ia dikenal memimpin kerajaan dengan sangat keras dan tegas, sehingga apabila terdapat barang yang tercecer di tengah jalan tidak seorangpun berani memungutnya kecuali pemiliknya sendiri. Beliau juga dikenal memerintah rakyat dan kerajaannya dengan arif, adil dan bijaksana. Keadilan dan kearifan itu terlihat pada kepatuhannya menegakkan hukum dan peraturan yang telah ditetapkan oleh kerajaan, sehingga keputusan-keputusan yang diambil tidak menimbulkan keraguan dalam pelaksanaannya. Pelaksanaan pemerintahan yang kuat seperti itu menjadikan dirinya sangat disegani, tidak hanya oleh rakyatnya sendiri tetapi juga oleh bangsa-bangsa lain. Dalam suatu riwayat dijelaskan, ketika raja Ta-Che di Arab mendengar kearifan dan keadilan Ratu Shima, ia mengutus seorang hulubalang meletakkan pundi-pundi berisi dinar di tengah jalan. Dikemukakan, bahwa selama tiga tahun, orang-orang yang lewat tidak seorang pun yang berani memungut pundi-pundi tersebut. Ketika Putra Mahkota berjalan-jalan, secara tidak sengaja kakinya menyentuh pundi-pundi itu. Oleh karena kesalahannya itu, Ratu Shima memerintahkan agar putra mahkota dihukum penggal. Berdasarkan pertimbangan ahli hukum dan para pembesar kerajaan, akhirnya kaki Putra Mahkota diamputasi sebagai hukuman atas kesalahannya, sebab kakinyalah yang bersalah. Setelah mendengar hal itu, raja Ta-Che merasa segan dan tidak berani menyerang Ratu Shima.


Bersamaan dengan perkembangan pelabuhan itu, juga dikembangkan unit usaha industri galangan kapal. Pada abad ke-16, industri galangan kapal di Jawa sangat terkenal di Asia Tenggara. Keahlian arsitek kapal Jawa juga sangat terkenal. Atas keahlian mereka itu, pada tahun 1512 Albuquerque membawa 60 tukang yang cakap dari Jawa untuk memperbaiki kapal-kapal Portugis yang rusak di pantai daratan India. Sehubungan dengan peran Jepara sebagai pelabuhan yang baik dan aman untuk berlabuhnya kapal-kapal niaga besar, dan juga untuk menunjang aktivitas dan ekspedisi militer, maka kebutuhan kapal menjadi meningkat. Oleh karena itu, Ratu Kalinyamat bersama suaminya membangun dan mengembangkan industri galangan kapal besar-besaran yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Tenaga tersebut melibatkan Arsitek, Tukang Kayu dan para Pekerja Kasar, yang dipimpin langsung oleh Sunan Hadirin dan Ratu Kalinyamat. Berbagai peninggalannya dan makam beliau masih dapat kita lihat sampai sekarang di Masjid dan Makam Mantingan Jepara.


Tiga abad sesudah pemerintahan Ratu Kalinyamat, muncul R.A. Kartini pada abad ke-19 dan ke-20 yang memiliki kualifikasi sebagai figur pejuang gigih dan menaruh perhatian besar di bidang sosial, politik, ekonomi, seni, budaya dan agama. Ia lahir di Mayong pada tahun 1879, pada waktu berlanngsungnya hegemoni kolonial Belanda. Peranan R.A. Kartini sebagai pemimpin gerakan wanita menembus abad ke-19 dan memasuki awal abad ke-20. Gaung perjuangannya terasa sampai sekarang. Ia adalah putra keempat dari delapan bersaudara dari putra R.M.A.A. Sosroningrat, seorang Bupati Jepara yang memerintah sejak tahun 1880 sampai tahun 1905. Gelar Adipati baru diperoleh R.M.A.A. Sosroningrat pada tahun 1895, setelah ia menjabat sebagai Bupati Jepara selama 15 tahun. Selama R.A. Kartini masih sekolah, ia sangat produktif menuangkan gagasan dan pemikirannya dalam berbagai bidang. Pikiran-pikiran R.A. Kartini dikomunikasikan kepada Ny. Abendanon, orang Belanda yang diakui oleh R.A. Kartini sebagai ibu angkat, dan kepada teman-teman sejawatnya orang-orang Belanda. Sampai sekarang, berkas surat-suratnya masih tersimpan dengan baik di negeri Belanda. Berkat surat-suratnya yang cemerlang dan menawan hati itu, R.A. Kartini menjadi orang terkenal di kalangan masyarakat terdidik Eropa, khususnya di negeri Belanda. Ia dipandang sebagai seorang timur yang memiliki pemikiran cerdas, cemerlang, dan berbobot. Berkat jasa dan perjuangan beliau, akhirnya R.A. Kartini mendapat penghargaan Bangsa Indonesia sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional.


Letak Geografis

Jepara adalah sebuah kota kabupaten yang terletak di kawasan pantai utara Jawa Tengah. Yakni terletak pada posisi 110° 9’ 48.02” sampai 110° 58’ 37.40” Bujur Timur, dan 5° 43’ 20.67” sampai 6° 47’ 25.83” Lintang Selatan, dengan Batas Wilayah : Sebelah Barat dan Utara ; Laut Jawa, Sebelah Timur ; Kabupaten Kudus dan Pati, dan Sebelah Selatan ; Kabupaten Demak. Luas kabupaten Jepara mencapai ± 100.413,189 Ha, yakni dengan pembagian wilayah menjadi 16 Kecamatan dan 194 Desa. Berikut ini adalah daftar 16 Kecamatan di Kabupaten Jepara, antara lain : 1) Kedung, 2) Pecangaan, 3) Kalinyamatan, 4) Welahan, 5) Mayong, 6) Nalumsari, 7) Batealit, 8) Tahunan, 9) Jepara, 10) Mlonggo, 11) Pakis Aji, 12) Bangsri, 13) Kembang, 14) Keling, 15) Donorojo, dan 16) Karimun Jawa.


Potensi Wisata Seni Budaya

Benteng VOC. Wisata Sejarah Benteng VOC (Vereenigde Oost-Indiche Commpagnie), benteng ini terletak 200 meter sebelah utara alun-alun Jepara, di atas perbukitan. Benteng ini dibangun pada tahun 1678 dan digunakan untuk melindungi kepentingan perdagangan pada waktu itu. Konon Kapten Tack, seorang perwira Belanda yang tewas melawan pasukan Untung Suropati di Kartosuro, dimakamkan di sini. Dari tempat ini dapat disaksikan Kota Jepara, panorama pantai dan pulau Panjang.


Museum Kartini. Museum ini berada di alun-alun kota Jepara. Museum ini banyak menyimpan benda-benda peninggalan R.A. Kartini yang kita kenal sebagai Pahlawan Nasional karena merupakan tokoh emansipasi Indonesia yang berjuang mengangkat harkat dan martabat kaum wanita. Benda-benda peninggalan R.A. Kartini yang ada di museum ini adalah foto-foto R.A. Kartini dan keluarganya, surat-surat, perabotan rumah tangga, peralatan dapur, dan lain-lain. Museum ini merupakan wisata sejarah yang sangat cocok untuk dikunjungi para Pelajar dan Mahasiswa pada khususnya dan masyarakat pada umumnya agar mereka lebih mengetahui dan mengenal R.A. Kartini. Di samping itu terdapat pula barang-barang penemuan pada masa kerajaan Hindu dan Islam yang tertata rapi dalam ruang Jepara Kuno.


Pendopo. Di tempat inilah R.A. Kartini mendapatkan ide guna memajukan wanita pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Di sanalah terdapat satu kamar gedung ini R.A. Kartini pernah dipingit sebelum menikah dengan Bupati Rembang. Di tempat ini R.A. Kartini juga mendidik pada murid dan pengrajin Jepara agar dapat meningkatkan penghasilannya dari ketrampilan dalam bidang ukir kayu. Salah satu peninggalan R.A. Kartini yang masih ada adalah Bunga Kantil, tempat dimana ia sering mempergumulkan ide-idenya.


Monumen Ari-Ari. Monumen ari-ari R.A. Kartini terletak di Mayong, 25 km arah selatan Jepara menuju Kudus. Di tempat ini R.A. Kartini dilahirkan pada saat ayahnya menjabat sebagai Wedana di Mayong.


Benteng Portugis. Benteng yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Agung sekitar abad 17 ini terletak di Desa Banyumanis, Kecamatan Donorojo, kurang lebih 45 km sebelah utara Kota Jepara. Lokasinya berada di atas bukit batu di tepi laut dan berhadapan langsung dengan pulau Mandalika memberikan nilai lebih karena pengunjung tidak hanya sekedar melihat benteng tetapi pengunjung juga dapat melihat dan menikmati keindahan laut dan pulau Mandalika. Di samping itu di sekitar benteng banyak ditumbuhi pohon-pohon yang rindang yang sudah berusia ratusan tahun sehingga menambah kesejukan alamnya. Untuk menuju benteng ini telah dibangun jalan menuju puncak bukit, dengan penataan yang baik dan dilengkapi dengan gardu pandang dan jalan lingkar sehingga para wisatawan dapat menikmati keelokan dan keindahan alamnya selama perjalanan menuju benteng. Wisata ini mempunyai potensi dan peluang untuk dikembangkan menjadi wisata sejarah sekaligus wisata alam sehingga kesempatan untuk berinvestasi terbuka lebar dalam bidang transportasi laut sebagai penghubung lokasi benteng dengan pulau Mandalika, restaurant , resort, dan lain-lain.


Makam & Masjid Mantingan. Terletak di Desa Mantingan dan kurang lebih 6 km arah selatan kota Jepara. Di Desa Mantingan ini merupakan tempat di semayamkannya Sunan Mantingan atau yang dikenal dengan Sunan Hadirin beserta istrinya yaitu Ratu Kalinyamat yang merupakan tokoh legendaris Jepara. Di desa ini juga terdapat Masjid Mantingan yang letaknya bersebelahan dengan Makam Ratu Kalinyamat. Masjid ini merupakan masjid tertua yang kedua yang ada di Pulau Jawa setelah Masjid Agung Demak yang dibangun pada tahun 1559 M. Masjid ini selain sebagai tempat beribadah juga memiliki keindahan arsitekturnya, karena di dalam masjid ini terdapat ornamen-ornamen ukiran Jepara Kuno dengan motif bunga, tumbuh-tumbuhan dan pintu gerbangnya berbentuk Candi Bentar yang diperkirakan mempunyai pengaruh terhadap perkembangan ukir Jepara. Obyek wisata ini mengandung nilai sejarah karena kedua tokoh yaitu Sunan Mantingan dan Ratu Kalinyamat tersebut berkaitan erat dengan awal mula berdirinya kota Jepara. Di sini pengunjung selain dapat berziarah juga sekaligus dapat berwisata untuk menikmati keindahan arsitekturnya dan alam sekitarnya.


Sreni Indah. Sreni Indah terletak di lereng Gunung Muria di wilayah Kecamatan Nalumsari, 35 Km dari Jepara. kawasan seluas 110 Ha yang dikelola Perhutani dan Jepara ini dipenuhi dengan tanaman pinus sehingga sangat nyaman karena berhawa sejuk.


Pantai Kartini. Pantai Kartini terletak di sebelah barat Jepara yang merupakan tempat rekreasi yang telah begitu dikenal oleh wisatawan dengan nama Taman Rekreasi Pantai Kartini. Penataan kawasan ini terus dilakukan dengan pembuatan gardu-gardu pandang dan tempat parkir yang cukup luas. Di samping itu telah dilengkapi pula dengan kios-kios souvenir dan perahu-perahu pesiar. Para pengunjung juga dapat mengunjungi pulau Panjang dan bercengkerama di pantai yang berpasir putih ini.


Tirto Samudro/ Pantai Bandengan. Masih juga merupakan wisata pantai Jepara yang menawarkan keindahan hamparan pasir putihnya. pantai ini terletak di Desa Bandengan, 8 km sebelah utara kota Jepara. Pantai ini pada zaman R.A. Kartini dijadikan tempat bercengkrama, dan karena keindahannya dinamakan Kartini “Klein Scheveningen”. Kondisi alam, pasir putih dan air laut yang jernih sangat cocok untuk menyenangi olah raga diving. Alunan ombaknya yang pelan yang menghantam tepian pantai serta pasirnya yang berwarna putih dengan kondisi air lautnya yang masih jernih sangat cocok untuk berjemur dan berenang. Kawasan yang masih alami dan cukup luas ini dan kawasan ini sebagian besar ditumbuhi rerimbunan pohon-pohon yang rindang dan pohon pandan sehingga tempat ini cocok untuk kegiatan remaja seperti kamping, volley pantai, sepeda santai dan kegiatan serupa lainnya. Tempat ini mudah dijangkau dengan mengggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat dan kondisi jalan yang sudah beraspal. Peluang investasi yang menjanjikan bagi investor adalah dalam bidang perhotelan, pengembangan obyek wisata dengan penyediaan fasilitas yang mendukung, dan lain-lain.


Kepulauan Karimunjawa. Kawasan ini terletak di laut Jawa ± 83 km dari Kota Jepara menuju arah utara. Obyek ini merupakan kepulauan yang ditetapkan sebagai Taman Nasional Laut Karimunjawa. Luas daratan 7.120 Ha dengan pulau berjumlah 27 buah, namun yang berpenghuni hanya 5 buah. Yaitu : Karimunjawa, Kemujan, Parang, Nyamuk dan Genting. Dengan hamparan pemandangan di sela-sela pulau, pasir putih yang membentang di sepanjang pantai dengan pohon kelapa. Terdapat 242 jenis ikan hias, serta 133 genera fauna akuatik. Dengan kapal motor, Karimunjawa dapat ditempuh dalam waktu sekitar 5 jam dari dermaga Jepara. Di kawasan Taman Nasional Laut ini juga telah dibangun “Kura-Kura Resort” yang merupakan kawasan peristirahatan dengan fasilitas mewah, yang merupakan milik investor asing. Secara garis besar fauna yang ada di Kepulauan Karimunjawa terdiri dari 2 (dua) kelompok, yaitu : 1) Daratan : Rusa, Trenggiling, Landak, Ular, Bangau Tong-tong, Bangau Abu-abu, Elang Laut dan Wedi-wedi. Burung Elang Laut merupakan satwa langka yang dapat dijumpai di kepulauan ini. 2) Perairan : Terumbu Karang, Spons, Karang Lunak, Akar Bahar, Kerang Merah, Penyu dan Ikan Hias. Selain itu, pantai-pantai di Karimunjawa sebagian besar berpasir putih, sehingga cocok untuk kegiatan berjemur, menyelam dan memancing. Kegiatan wisata yang dapat dilakukan antara lain : 1) Olah raga selam : di Tanjung Gelam (di Karimunjawa), Pulau Menjangan Kecil dan Pulau Cemara Kecil, dan 2) Mandi di pantai dan berjemur, cocok dilakukan di Pulau Menjangan Besar yang berpasir putih dan Pulau Cemara Kecil.


Pesta Lomban. Pesta ini merupakan acara sesajian ritual yang dilakukan oleh para nelayan Jepara. Pesta lomban dimulai dengan upacara persiapan di pinggir pantai dan kemudian sesaji yang berupa kepala kerbau dilepas di tengah laut. Setelah sesaji dilepas, beberapa perahu nelayan berebut mendapatkan air dari sesaji itu yang kemudian disiramkan ke kapal mereka dengan keyakinan kapal tersebut akan mendapatkan banyak berkah dalam mencari ikan. Ketika berebut sesaji ini juga dimeriahkan dengan tradisi perang ketupat di mana antar perahu yang berebut saling melempar dengan menggunakan ketupat. Malam hari sebelum acara ini berlangsung, biasanya diadakan pegelaran wayang kulit semalam suntuk.


Obor-Oboran. Perang obor merupakan tradisi yang dilakukan pada puncak panen di Desa Tegal Sambi Kecamatan Tahunan yang letaknya ± 3 km arah selatan kota Jepara. Perang obor ini merupakan atraksi perang menggunakan pelepah daun kelapa yang dibakar dan dihantamkan kepada peserta lainnya dengan dibekali kepercayaan dari sesepuh desa sehingga seluruh peserta dapat menyelesaikan perang obor tersebut dengan selamat, tanpa menderita luka bakar sedikitpun. Perang obor ini merupakan atraksi budaya yang sudah turun temurun yang harus dilestarikan karena selain merupakan tradisi budaya daerah sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan anugrah panen kepada masyarakat setempat juga sangat menarik untuk dinikmati oleh wisatawan, sehingga hal ini berpotensi untuk dikembangkan dan dikemas menjadi wisata budaya yang sangat menarik.


Jembul Tulakan. Suatu kegiatan sedekah bumi dari Desa Tulakan Kecamatan Donorojo yang menampilkan sesajian yang berbentuk gunungan sebagai ungkapan rasa syukur atas limpahan rejeki dari Tuhan Yang Maha Esa, sehingga mereka berhasil mendapatkan panen pertanian dengan cukup melimpah. dengan sajian tersebut juga diharapkan pada masa mendatang dapat berhasil mendapatkan panen yang bagus. Kegiatan ini begitu ramai sehingga tidak saja diikuti oleh warga Desa setempat, namun juga dari berbagai warga Desa lain.


Sumber Referensi :

1. Seni Kerajinan Mebel Ukir Jepara, “Kajian Estetik Melalui Pendekatan Multidisiplin”,

Karya : Prof. Drs. SP. Gustami, S.U.

2. Atlas Kabupaten Jepara, Edisi 2, Pemerintah Kabupaten Jepara.

3. E-BOOK Informasi Pariwisata Nusantara (Jawa Tengah)

MEWARNAI SANDANGAN AKSARA JAWA

MEWARNAI PASANGAN AKSARA JAWA

MEWARNAI AKSARA JAWA

MARS SMA ISLAM KELING

MARS SMA ISLAM KELING
Karya : Bp. Miftahul Kamaluddin (Guru Bahasa Indonesia)

Kami siswa SMA Islam Keling
Siswa yang berakhlaq tinggi
Berdoa dan menuntut ilmu
'Tuk masa depan nanti

Peratutan kita tegakkan
Prestasi kita tingkatkan
Dengan doa dan belajar

Maju terus pantang mundur
Kita juga pasti bisa
'Tuk meraih cita-cita

Bila badai 'kan menghadang
Pasti kami akan terjang
Bila kami giat belajar
Pasti kami akan pintar
Galanglah persatuan ukhuwah islamiyah

Ahlussunah wal jama'ah asas kami
Damai tetap di hati
Genderang persatuan kita tabuhkan
Abadi selamanya

Sabtu, 24 Juli 2010

Pentas Musik Siswa SMA Islam Keling Menyongsong Hari Sumpah Pemuda (Konsep Kostum Bertulis Tahun 1928)

Lomba Kaligrafi SMA Islam Keling













Konsep
Yakni sebuah cara pandang dalam menilai Lambang/ Logo SMA Islam Keling yang berlandaskan pada Al-Qur'an Surat Al-Faatihah ayat 6. Yakni gambar yang berbentuk sebuah Jalan Lurus yang melambangkan sebuah proses yang harus ditempuh dengan cara yang benar

Lomba Desain Mural (Lukisan Dinding) SMA Islam Keling











Konsep
Sebuah usaha dalam memanfaatkan ruang kosong dinding pagar sebagai salah satu media komunikasi siswa ke dalam media gambar dengan berbagai pesan-pesan sosial, moral dan spiritual

KARYA DESAIN SISWA SMA ISLAM KELING

UNTUK SMA ISLAMKU

Syair Lagu Karya Ali Maksum (Kelas 3 IPA)

Kulangkahkan kaki di sini
Kucoba 'tuk meraih mimpi-mimpi
Di SMA Islam tercinta
Kucoba 'tuk menaklukkan dunia

Terimakasih aku ucapkan
Pada guruku yang t'lah ajarkan
Tentang apa arti kehidupan
Jalani hidup di dunia
Menjadi lebih bermakna

Duhai sang guruku tercinta
Terukir indah semangat juangnya
Lembut kasih sayang pancarkan rasa
Pengabdianmu sepanjang masa

Oh, guru...
T'rimaksihku...
Oh, guru...
Doa untukmu...
Untukmu, SMA Islamku...

Selasa, 20 Juli 2010

BROSUR LKP LENTERA CLERING


LENTERA "Kreasi Musik Karangsari"


Desain Poster Penerimaan Siswa Baru SMA Islam Keling 2010




















Desain Poster Penerimaan Siswa Baru SMA Islam Keling 2009





















Rabu, 14 Juli 2010

LAMBANG ISI YOGYAKARTA


POTRET DIRI


LAMBANG DESA CLERING


















Karya : Frengky Widias Sandy

LAMBANG KECAMATAN DONOROJO




















Karya : Frengky Widias Sandy

Kamis, 08 Juli 2010

Daftar Riwayat Hidup

DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Oleh : Frengky Widias Sandy

Riwayat Pendidikan

  • Th. 1994, lulus SD Negeri 2 Clering Keling Jepara
  • Th. 1997, lulus SMP Negeri 2 Keling Jepara
  • Th. 2000, lulus SMIK Negeri Jepara
  • Th. 2006, lulus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta
  • Th. 2007, lulus Akta Mengajar IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta

Aktivitas Seni Rupa
Th. 2000 :

  • Pameran Tugas Akhir Kriya Kayu SMIK Negeri Jepara di Aula SMIK Negeri Jepara

Th. 2002 :

  • Pameran Kriya Kayu Kelompok KRISNA 2000 “Pluralisme Kriya” di Galeri ISI Yogyakarta
  • Pameran Dies Natalies ISI Yogyakarta ke-17 di Galeri ISI Yogyakarta

Th. 2003 :

  • Pameran Seni Rupa Islami Keluarga Mahasiswa Islam (KMI) ISI Yogyakarta di Padepokan Ahmad Dahlan Yogyakarta
  • Pameran Kriya Kelompok KAMBIUM, di Kedaulatan Rakyat (KR) Yogyakarta
  • Pameran Seni Rupa Islami “Indahnya Ramadhan” Keluarga Mahasiswa Islam (KMI) ISI Yogyakarta di Galeri ISI Yogyakarta

Th. 2004 :

  • Pameran Kriya Kayu V, di Gedung Lantai I FSR ISI Yogyakarta
  • Environmental Art, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pecinta Alam Sasenitala ISI Yogyakarta di Mbebeng Kaliurang Yogyakarta
  • Pameran Seni Rupa dan Kerajinan Program KKN ISI Yogyakarta di Cilacap Utara Jawa Tengah

Th. 2006 :

  • Pameran Tugas Akhir Kriya Seni, di Galeri ISI Yogyakarta

Aktivitas Performance Art dan Baca Puisi
Th. 2007 :

  • Performance Art dan Baca Puisi “Asal Cahaya dan Dhandhang Gulo” Festival Seni Parangtritis 2007 di Lapangan Pantai Parang Kusumo Yogyakarta
  • Performance Art “Eksistensialisme/ Aku Berkarya Maka Aku Ada” pada pembukaan Pameran Seni Rupa Sensasi Kolaborasi di Coral Gallery Yogyakarta
  • Baca Puisi “Baru Klinting” Festival Bumi Pertiwi di Bunderan UGM Yogyakarta

Aktivitas Seni Musik Islami Komunitas “SOBAYA” ISI Yogyakarta
Th. 2007 :

  • Pentas Musik Pembukaan Pameran Buku “Islamic Book Fair 2007” di Mandala Bhakti Wanitatama Yogyakarta
  • Pentas Musik Pembukaan Pameran Buku “Islamic Book Fair 2007” di Purwokerto Jawa Tengah
  • Pentas Tunggal SOBAYA “Seni Dalam Keberagaman” di Mandala Bhakti Wanitatama Yogyakarta
  • Pentas Musik Pembukaan Pameran Seni Rupa “Modern Kaligrafi” di Museum Affandi Yogyakarta
  • Pentas Musik Pembukaan “Pameran Tugas Akhir Kriya Seni” di Gedung Jurusan Kriya Lantai I FSR ISI Yogyakarta
  • Pentas Musik Launching Album Grup Musik Religi “SHUHADA” di Mandala Bhakti Wanitatama Yogyakarta
  • Pentas Musik “Maulid Nabi” di Auditorium Musik ISI Yogyakarta
  • Pentas Musik Peresmian Rumah Makan Padang “Duta Minang” di Yogyakarta
  • Pentas Musik “Gema Ramadhan” di STIEKES RESPATI Yogyakarta
  • Pentas Musik “Halal Bihalal TELKOMSEL SEMARANG 2007” di Lippo Bank Semarang
  • Pentas Musik “Halal Bihalal Keluarga Madura-Yogya” di Yogyakarta
  • Pentas Musik Pernikahan Komunitas Pemulung dan Anak Jalanan “HAFARA” di Kasihan Bantul Yogyakarta
  • Pentas Musik “Seminar Nasional Desain Interior se-Perguruan Tinggi Indonesia” di FSR ISI Yogyakarta
  • Pentas Musik “Rekonsiliasi 1 Tahun Paska Gempa Yogyakarta” di Cabean Bantul Yogyakarta

Th. 2008 :

  • Pentas Musik Pembukaan Pameran Buku “Islamic Book Fair 2008” di Mandala Bhakti Wanitatama Yogyakarta
  • Pentas Musik Pembukaan Pameran Lukis “Kumis” di IVAA Galeri Yogyakarta
  • Pentas Musik Pembukaan Pameran Lukis “Cahaya” di Museum Affandi Yogyakarta
  • Pentas Musik Pernikahan Komunitas “Nurun Dholam” di Dadapan Bantul Yogyakarta
  • Pentas Musik “Rekonsiliasi 2 Tahun Paska Gempa Yogyakarta” di Pajangan Bantul Yogyakarta
  • Pentas Musik “Gebyar Seni Islami dan Pengukuhan IPQAH Bantul” di Pajangan Bantul Yogyakarta
  • Pentas Musik “Perpisahan SMP Negeri Mojokerto” di Hotel Bhineka Yogyakarta
  • Pentas Musik Pembukaan Pameran Buku Anggota IKAPI di Diamond Solo Jawa Tengah
  • Pentas Musik “Peningkatan Prestasi Siswa Oleh Dinas Pendidikan Bantul” di studio TVRI Yogyakarta, Jogja TV, dan RBTV
  • Pentas Musik Silaturahmi Rumah Singgah Komunitas Pemulung dan Anak Jalanan “HAFARA” di Kasihan Bantul Yogyakarta
  • Pentas Musik Silaturahmi Pondok Pesantren Lanjut Usia (Lansia)“ASMA’UL HUSNA” di Ngaglik Sleman Yogyakarta
  • Pentas Musik Mujahadahan “Sholawatan” Komunitas Nurun Dholam Yogyakarta
  • Pentas Musik Bersama Komunitas Pemulung dan Anak Jalanan “HAFARA” dalam Pengajian Emha Ainun Nadjib “Mocopat Syafaat” di TKIT Alhamdulillah, 17 Maret 2008 di Kasihan Bantul Yogyakarta
  • Pentas Musik Pengajian Emha Ainun Nadjib “Mocopat Syafaat” di TKIT Alhamdulillah, 17 April 2008 di Kasihan Bantul Yogyakarta
  • Pentas Musik “Mujahadahan dan Manakiban” di Alun-alun Kidul/ Keraton Yogyakarta
  • Pentas Musik “Mujahadahan dan Manakiban” di Giwangan Yogyakarta
  • Pentas Musik Pembukaan Pameran Kaligrafi “Yaa-Siin” di Jogja Gallery Yogyakarta
  • Pentas Musik “Gema Ramadhan” Komunitas Nurun Dholam di Bantul Yogyakarta
  • Pentas Musik “SAFARI RAMADHAN TELKOMSEL 2008” di Pendopo Kabupaten Tegal Jawa Tengah

Aktivitas Seni Musik “LENTERA” Kreasi Musik Karangsari
Th. 2008 :

  • Pentas Musik “Halal Bihalal Fatayat-Muslimat NU ancab Donorojo dan ancab Keling 2008” di Clering Donorojo Jepara
  • Pentas Musik “Perpisahan Siswa Kelas XII IPA/ IPS” di SMA Islam Keling Jepara
  • Pentas Musik “Peringatan Isro’ Mi’roj 2008” di SMA Islam Keling Jepara
  • Pentas Musik “Peringatan Isro’ Mi’roj 2009” di SMA Islam Keling Jepara
  • Pentas Musik “Pesantern Kilat dan Bakti Sosial Pendidikan 2009” di SMA Islam Keling Jepara

Pengalaman Mengajar
Th. 2004 :

  • Mengajar Seni Rupa dan Kerajinan di SD dan SMP Mertasinga Cilacap Utara, Jawa Tengah, Program KKN ISI Yogyakarta

Th. 2007 :

  • Mengajar Seni Rupa dan Kerajinan di SMSR Yogyakarta, Program PPL Akta Mengajar IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta

Th. 2008 :

  • Mengajar Ekstrakurikuler Seni Musik di MTs Negeri Gondowulung Bantul Yogyakarta bersama “SOBAYA” ISI Yogyakarta

Th. 2008 :

  • Pendampingan Seni Musik Komunitas Pemulung dan Anak Jalanan “HAFARA” di Yogyakarta bersama “SOBAYA” ISI Yogyakarta
  • Mengajar Musik Rebana di TPQ Baitussalamah Karangsari Clering Donorojo Jepara
  • Mengajar Seni Budaya di SMA Islam Keling Jepara
  • Mengajar Seni Budaya di SMK Muhammadiyah Keling
  • Mengajar Seni Budaya di SD Negeri 3 Kelet
  • Mengajar Komputer, Seni Rupa dan Seni Musik Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) LENTERA Clering

Pengalaman Kerja
Th. 1999 :

  • Quality Control (QC) di Perusahaan Mebel PT Aulia Yasmin Jepara, Program PSG SMIK Negeri Jepara

Th. 2005 :

  • Quality Control (QC) dan Designer di CV. Bali Phatama “Leather Furniture” Yogyakarta, Program PI ISI Yogyakarta

Th. 2006 :

  • Tim Instruktur “Pelatihan dan Pengembangan Industri Kerajinan Anyaman di Daerah Tertinggal” di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah
  • Tim Instruktur “Pelatihan dan Pengembangan Batik Pewarna Alam” Masyarakat Pembatik TRILODJI di Imogiri Yogyakarta

Th. 2007 :

  • Drafter/ Designer/ Estimator Furniture di PT Gong Indonesia “Antique and Reproduction Furniture” di Sleman Yogyakarta

Pengalaman Juri Lomba

  • Juri lomba menggambar dan mewarnai tingkat TK di TK Aisyiah Yogyakarta
  • Juri lomba menggambar dan mewarnai tingkat TK dan SD/MI acara Festival Seni Islami Remaja "FAIS" di Kelet Keling Jepara
  • Juri lomba tulis dan baca puisi tingkat SD di PKMB Jlegong Keling Jepara
  • Juri lomba Paduan Suara tingkat SMP/ MTs, SMA/ MA, SMK/ MAK acara Kemah Kebangsaan dan Out Bond Bela Negara di Bandungharjo Donorojo Jepara
  • Juri Lomba Mewarnai Tingkat TK/RA se-Kecamatan Keling dan Donorojo di SD Negeri 3 Kelet

Demikianlah Daftar Riwayat Hidup ini saya buat dengan sebenarnya. Atas perhatian dan kerjasamanya, saya ucapkan banyak terimakasih.




Lambang Kecamatan Donorojo

KONSEP LAMBANG KECAMATAN DONOROJO
Oleh : Frengky Widias Sandy*


Latar Belakang
Ini hanyalah sebuah catatan singkat, harapan, cita-cita, dan lain sebagainya dalam rangka merekam dan mendokumentasikan ide dan pemikiran, demi sebuah keindahan dan keberlangsungan cita-cita mulia para leluhur Putra Jepara. Atau dengan kata lain, bisa juga dinilai sebagai sebuah cerita seorang abdi kepada pimpinannya, yang menginginkan kebaikan dan idealisme sebuah tatanan hidup. Alhamdulillah, sudah hampir satu tahun Kecamatan Donorojo bersemi, bagai daun muda yang sedang mekar indah, segar, yang rindu cahaya.

Seiring pemekaran makna, pada kesempatan ini boleh dikatakan, secara arti bahasa Jawa, Donorojo adalah terdiri dari dua suku kata, yakni : “Dono” yang berarti Suka Memberi, dan “Rojo” yang berarti seorang Raja atau Pemimpin. Sehingga bisa bernilai, ada seorang figur Raja atau Pemimpin yang suka memberi. Atau lebih lanjut, adalah Pemimpin yang suka memberi tauladan hidup, baik bersifat material ataupun spiritual. Sehingga yang dipimpin menjadi sejahtera, taat dan bersahaja.

Dari uraian ini, tentu masih sangat mungkin untuk membuka peluang tafsir dan nilai yang diyakini bermakna, yang syah-syah saja untuk dikembangkan sesuai pengalaman dan muatan kalbu masing-masing untuk memberikan persembahan yang terbaik, sehingga untaian cita-cita dapat segera terbaca dan dipahami.

Seiring terbit mentari di ufuk timur, Donorojo, ketika sang Pemimpin bertutur kepada rakyatnya, rasa bangga pun meresap dan memancar ke segenap penjuru dunia. Berawal dari kerinduan mendalam pada figur dan spirit tokoh terkemuka Jepara, terpanggil hati untuk merenungkan kembali cita-cita bangsa ini. Mari sejenak kita baca kembali era kepemerintahan dan kepemimpinan tokoh pejuang penting yang menghias lembar emas perjalanan sejarah panjang Jepara, yang sama-sama kita cintai dan banggakan. Terlintas pula dalam ingatan, untaian bijak Bapak Proklamator kita yang menyatakan, bahwa “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya”.

Adalah sebuah fitrah manusia, bahwasanya kerinduan hati pada sesuatu yang membahagiakan dan mensejahterakan sama-sama kita impikan, sebagaimana yang tertuang dalam pembukaan dan batang tubuh Undang-Undang Dasar 1945. Dalam hal ini, terkhusus untuk kota Jepara, tentu kita masih ingat, ketika di zaman Hindu, yakni pada abad ke-7 di Jepara telah berdiri megah sebuah kerajaan besar yang bernama Kalingga yang dipimpin oleh seorang Ratu yang bernama Ratu Shima. Sungguh beruntung ketika memiliki figur Pemimpin, Raja atau Ratu yang sangat terkenal kearifan, keadilan dan kebijaksanaannya itu, yang sangat disegani rakyatnya dan bangsa-bangsa lain. Selain itu, dengan pakaian anggun dan perhiasan kebesarannya yang sangat indah, yang terbuat dari emas, logam, perak, dan tembaga, serta seperangkat kecerdasan yang luar biasa, Beliau telah meletakkan dasar-dasar pengenalan ilmu pengetahuan dan berbagai keterampilan kepada rakyatnya : ilmu pengecoran logam, bercocok tanam, membuat alat transportasi darat dan laut, membuat rumah, perabot dan lain sebagainya, serta kegiatan di bidang kerajinan tangan dan pertukangan yang lebih lanjut dikembangkan oleh Ratu Kalinyamat di zaman berikutnya.

Sesudah kepemimpinan Ratu Shima berlalu, yakni pada kurun waktu kurang lebih abad ke-16, di zaman Islam, kita memiliki seorang Pemimpin atau Ratu yang sangat terkenal pula. Beliau adalah Ratu Kalinyamat, seorang putra ke-3 dari enam bersaudara keturunan Sultan Trenggana dari Demak. Diantara catatan emas yang masih lekat dalam benak adalah keberhasilan Beliau dalam menjalankan roda kepemerintahan yang mengantarkan Jepara pada kemajuan industri galangan kapal dan pertukangan yang luar biasa dan besar-besaran, sehingga banyak menyerap tenaga kerja, arsitek, tukang kayu, pekerja kasar, dan lain sebagainya, yang lebih lanjut menjadikan Jepara sebagai pusat pelabuhan penting dan terkemuka di Jawa. Ketenaran Jepara pun akhirnya meluas di dunia internasional. Alhamdulillah, peninggalan-peninggalan Beliau masih dapat kita jumpai sampai sekarang di Masjid dan Makam Mantingan Jepara.

Seiring matahari yang terus bergulir, masih pula menancap dalam hati, di zaman kolonial, ketika zaman penjajahan yang luar biasa menindas, kita memiliki RA Kartini yang berperan penting dalam olah rasa dan pemikiran yang cerdas, mengantarkan Beliau pada predikat nasional sebagai Pahlawan Bangsa. “Habis Gelap Terbitlah Terang”, itulah salah satu tulisan Beliau yang diterjemahkan lebih dari satu bahasa, yakni : Bahasa Belanda, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Bahasa Melayu, Bahasa Sunda, dan Bahasa Jawa, yang selalu tetap relevan sampai sekarang. Bila ditelusuri lebih jauh, kemunculan pemikirannya tentu tidaklah serta merta adanya, melainkan adalah sebuah usaha sadar dan terencana yang dilakukan RA Kartini dan masyarakat pendukungnya. Yakni, sebuah proses panjang RA Kartini yang selalu bergemuruh dalam hati dan jiwanya untuk memajukan bangsanya yang tertindas dan tertinggal.

Perlu disampaikan, dalam suatu catatan dikatakan, RA Kartini semasa hidupnya adalah seorang gadis yang giat belajar berbagai ilmu pengetahuan. Diantaranya, Beliau adalah seorang Santri yang belajar ilmu agama kepada KH. Sholeh Darat, yang asli kelahiran Jepara dan menjadi Guru Besar di Masjidil Haram Mekah. Dikemukakan, waktu itu RA Kartini belajar ilmu tafsir Al-Qur'an Surat Al-Faatihah, dengan niatan ingin mengerti arti bahasa Arab pada Kitab Suci Al-Qur'an dan memahaminya, sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Boleh dikatakan, pada waktu itu pemahaman masyarakat pada kandungan arti bahasa dan makna Al-Qur'an masih sangat terbatas, karena belum ada Al-Qur'an Terjemah dan Tafsir seperti sekarang. Setelah RA Kartini belajar ilmu tafsir pada KH. Sholeh Darat, RA Kartini menyatakan : “Setelah saya mengerti dan memahami kedalaman makna yang terkandung dalam surat Al-Faatihah, hidup terasa terang benderang”. Maka, dalam hal ini, RA Kartini tentu bisa kita nilai adalah figur Pemimpin yang luas ilmunya, sehingga semakin lengkap cakrawala berfikir dan makin mantap prinsip hidupnya.

Gerak langkah RA Kartini yang demikian mengagumkan itu, selain dikenal sebagai tokoh emansipasi wanita, Beliau juga mendirikan sekolah untuk kaumnya yang sekaligus menjadi Guru bagi wanita pribumi. Di sisi lain, Beliau juga dikenal sebagai seorang seniman sastra yang handal, terbukti bahwa tulisan dan pemikirannya tersebut yang diterjemahkan lebih dari satu bahasa. Selain itu, dalam olah seni dan budaya, catatan emas perjalanan seni rupa modern telah menempatkan Beliau sebagai salah seorang perintis Desain Batik, Desain Mebel dan Seni Lukis Modern di Indonesia.

Demikianlah, serangkaian proses permenungan sejenak demi usaha mengambil kembali spirit hidup dan ketauladanan Putra Jepara yang benar-benar telah menghias lembar emas perjalanan sejarah bangsa. Demikianlah, tak terasa sang matahari perlahan mulai menghilang dikeremangan senja. Sebuah tanda, bahwa hari akan segera berganti. Akhirnya, bagai seorang pemimpin yang berpesan pada abdinya, atau ibarat seorang kakak yang berpesan untuk adik tercinta, maka kami akhiri tulisan ini dengan sedikit untaian bijak dari RMP Sosrokartono, yakni kakak kandung RA Kartini dengan mengatakan, “Sepi ing pamrih, rame ing gawe”. Yang bisa dipahami sebagai tauladan atau pesan untuk selalu aktif berkarya, dan bersikap hidup ikhlas, demi kelangsungan regenerasi di masa sekarang dan yang akan datang. Amin..

Arti Lambang
Seniman sebagai agen kreatifitas seni membuktikan, bahwa seni merupakan ukuran yang langsung tentang visi spiritual manusia. Kehadiran seni selalu selaras dengan Jiwa Zaman yang dinamis, baik segi sosial, ekonomi, politik, budaya dan agama. Lebih lanjut, eksistensi simbol atau lambang sebagai sebuah bahasa budaya, merupakan salah satu bahasa ungkap yang efektif dalam menuangkan cita-cita dan pandangan hidup, baik bersifat individu ataupun kelompok.

Dalam geraknya, secara filosofis, simbol atau lambang adalah terbentuk atas dasar pertimbangan dengan tujuan tertentu, yang merupakan sebuah kesepakatan bersama, sehingga memiliki kekuatan utuh sebagai sebuah bahasa. Misal, warna Merah Putih bendera kita, tentu punya nilai dan makna yang sama-sama telah kita sepakati dan pahami. Lebih lanjut, dalam kancah budaya Jawa, munculnya suatu simbol atau lambang, pada hakikatnya adalah rekaman batin manusia sejati untuk mengungkapkan keindahan terdalam dalam rangka “Mewayu Hayuning Bawana” yaitu sebuah konsep mendasar masyarakat Jawa dalam berkarya untuk mempersembahkan kepada dunia yang indah ini menjadi lebih indah, seiring logika, etika dan estetika masyarakat pendukungnya.

Termasuk hakikat psikis manusia, bahwasanya apa yang dihayati dalam hidupnya, senantiasa akan terekam dalam batin dan ingatan, kebahagiaan, kepedihan dan lain sebagainya yang sangat membekas dalam hati dan ingatan. Peristiwa yang muncul tidaklah lepas begitu saja, melainkan menyelami jiwa.

Perisai Bentuk Mahkota :
Melambangkan figur Pemimpin yang menyejarah di Jepara

Matahari :
Melambangkan sumber cahaya dan ilmu pengetahuan, serta kesadaran yang menyinari kehidupan

Sinar Matahari Berjumlah Lima :
Melambangkan Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia yang mencerahkan

Daun Ukir Motif Jepara Asli Berjumlah 8 :
Melambangkan jumlah Desa yang ada di Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara

Warna Bumi Hijau Berlapis 3 :
Melambangkan proses dan tahapan pembangunan demi kesejahteraan masyarakat bersama yang harus ditempuh dengan penuh kerja keras, kesabaran dan gotong-royong


* Disusun oleh : Frengky Widias Sandy, S.Sn.
Alamat : Dukuh Karangsari RT 003 RW 001 Desa Clering
Kecamatan Donorojo Kabupaten Jepara, Kode Pos 59454
Telp. : 0857 273000 42
Pekerjaan : Mengajar Seni Rupa dan Desain di SMA Islam Keling Jepara


Sumber Referensi :
  1. Seni Kerajinan Mebel Ukir Jepara “Kajian Estetik Melalui Pendekatan Multidisiplin”,Karya : Prof. Drs. SP. Gustami, S.U.
  2. Seni, Arti dan Problematikanya, Karya : Herberd Read, diterjemahkan oleh Prof. Soedarso Sp
  3. Daya Kekuatan Simbol, Karya : F.W. Dilistone, diterjemahkan oleh A. Widyamartaya
  4. Seni Rupa dan Desain SMA, Karya : Dr. Agus Sachari, M.Sn.
  5. Pijar-Pijar Penyingkap Rasa : Sebuah Wacana Seni dan Keindahan, Karya : Bagoes P. Wiryomartono
  6. Manusia Merenungkan Dirinya, Karya : Theo Huijbers
  7. Seni Karawitan Jawa “Ungkapan Keindahan Dalam Musik Gamelan”, Karya : Dr. Purwadi, M.Hum. dan Drs. Afendy Widayat
  8. 99 Kyai Kharismatik Nusantara, Karya : KH. Aziz Masykuri
  9. Menyorong Rembulan, Karya : Emha Ainun Nadjib
  10. Agenda Kritis Pembangunan Nasional, Karya : Dr. Tarmizi Taher

Lambang Desa Clering

KONSEP LAMBANG DESA CLERING
Oleh : Frengky Widias Sandy*

Latar Belakang
Ketika himpitan era global kian menggilas akar nilai tradisi bangsa, sudah sepatutnya disyukuri dan didukung banyak pihak bila sampai saat ini kita masih bisa menikmati indahnya alunan musik gamelan/ karawitan yang cukup menghibur di Desa Clering tercinta. Sebuah lantunan tata nilai seni budaya agung warisan leluhur. Diantaranya adalah lestarinya Tembang Macapat (Maca Papat-Papat) dan atau Mocopat (Moco Iman Pathokan) buah karya Wali Songo di Tanah Jawa, yang mengandung suri tauladan dan ajaran hidup gambaran ideal perjalanan manusia di dunia dari lahir sampai meninggal dunia. Tembang tersebut kurang lebih berjumlah 11 yang tersusun urut sebagai berikut : 1) Mijil/ Keluar/ Lahir, 2) Sinom/ Bersemi/ Anak-anak, 3) Maskumambang/ Bagai Emas Terapung/ Remaja, 4) Asmaradana/ Dewasa, 5) Dandhang Gula/ Manten Anyar, 6) Kinanthi/ Dikanthi/ Ditemani, 7) Gambuh/ Serasi, 8) Durmo/ Mundur Mo-Limo, 9) Pangkur/ Nyimpang/ Mungkur, 10) Megatruh/ Memisahkan Ruh Pikiran, dan 11) Pocung/ Pocong/ Meninggal Dunia. Dari serangkaian nama tembang dan tafsir bahasa tersebut, tentu masing-masing bisa menilai sendiri dan mencari kedalaman maknanya.

Oleh karenanya, sebelum secara khusus bicara Desa Clering, ada baiknya pula dibuka kembali lembar ingatan masing-masing dengan harap semoga segenap capaian usaha dan doa yang dilakukan senantiasa membawa diri pada tingkat kualitas hidup yang lebih baik dalam banyak hal. Alhamdulillah, pada kesempatan ini sekilas akan disajikan catatan penting berdasarkan sumber tertulis Data Desa Clering pada tanggal 18 Februari 2009, yang barangkali bisa dijadikan pijakan untuk membaca sejenak, memahami dan berfikir untuk merenungkan kembali dibawa kemana gerak langkah kita kemarin, sekarang dan yang akan datang.

Secara geografis, Luas Wilayah Desa Clering mencapai ± 2.366.779 m², dengan Batas-Batas Wilayah : Utara ; Laut Jawa, Timur ; Kabupaten Pati, Selatan ; Desa Sumberrejo, dan Barat ; Desa Ujungwatu. Pembagian Wilayah Desa menjadi 11 Dukuh, yaitu : 1) Dukuh Karangsari, 2) Dukuh Karangrejo, 3) Dukuh Tawangrejo, 4) Dukuh Pasokan, 5) Dukuh Bumiharjo, 6) Dukuh Trowulan, 7) Dukuh Gandik, 8) Dukuh Kedungsari, 9) Dukuh Jetis, 10) Dukuh Clering dan 11) Dukuh Soka. Yakni dengan Pembagian Rukun Tetangga (RT) sebanyak 25 RT dan Rukun Warga (RW) sejumlah 6 RW.

Sehubungan dengan hal tersebut, sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 72 Tahun 2005 Tentang Desa, yakni ketika Desa dinilai sebagai kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia, tentu sangat berperan besar dalam gerak roda pembangunan, baik dalam hal : Ekonomi, Pendidikan, Sosial, Politik, Seni Budaya dan Agama.

Perlu disampaikan, berdasarkan Data Desa yang diperoleh, tercatat Jumlah Penduduk Desa Clering mencapai ± 5.554 Orang : Laki-laki ± 2.829 Orang, dan Perempuan ± 2.725 Orang. Yakni dengan klasifikasi : 1) Umur : 0-04 Tahun ; 500 Orang, 05-09 Tahun ; 579 Orang, 10-14 Tahun ; 489 Orang, 15-19 Tahun ; 502 Orang, 20-24 Tahun ; 508 Orang, 25-29 Tahun ; 419 Orang, 30-34 Tahun ; 515 Orang, 35-39 Tahun ; 477 Orang, 40-44 Tahun ; 431 Orang, 45-49 Tahun ; 270 Orang, 50-54 Tahun ; 254 Orang, 55-59 Tahun ; 251 Orang, 60 Tahun ke atas ; 359 Orang. 2) Pemeluk Agama : Islam 4.760 Orang dan Kristen 794 Orang, 3) Pekerjaan : Petani 1.750 Orang, Buruh Tani 1.268 Orang, Nelayan 75 Orang, Pengusaha 120 Orang, Buruh Industri 506 Orang, Tukang Bangunan 126 Orang, Pedagang 56 Orang, Pengangkutan 17 Orang, Pegawai Negeri Sipil (PNS) 28 Orang, TNI/ POLRI 2 Orang, Pensiunan 26 Orang, dan masih beberapa profesi lain yang terlewatkan terdata dengan baik. Misalnya : Guru, Ustadz/ Ustadzah, Kyai, Pendeta dan lain sebagainya.

Berdasarkan data tersebut, terkait dengan sektor ekonomi dapat dikatakan bahwa mayoritas penduduk Desa Clering bekerja sebagai Petani dan Buruh Tani. Diantara nama Kelompok Tani tersebut antara lain : Kelompok Tani “Sido Mulyo I”, Kelompok Tani “Bhina Usaha”, Kelompok Tani “Marsudi Bugo I” dan lain sebagainya yang lengkap dengan berbagai visi dan misinya. Seiring peran pentingnya, serta demi meningkatkan kesejahteraan hidup, pihak Pemerintah pun banyak mendukung. Diantaranya kemudahan mendapat dana bantuan pinjaman/ kredit Program KKP-E kerjasama BRI dan Dinas Pertanian dan Peternakan Jepara Tahun 2009 sebesar Rp. 250.000.000,-/ kelompok, yang masing-masing kelompok beranggotakan 10 Petani/ Peternak.

Lebih lanjut, berkenaan dengan kependidikan, dapat dikatakan masyarakat Desa Clering sangat peduli Pendidikan. Hal ini bisa diamati dari banyaknya Lembaga Pendidikan yang ada, baik Pendidikan Formal maupun Non Formal. Berikut ini data Lembaga Pendidikan Desa Clering, antara lain : 1) Pendidikan Formal Tingkat Pendidikan Dasar, yakni ; SD Negeri 01 Clering, SD Negeri 02 Clering, SD Negeri 03 Clering, MI Nurul Huda 01 Clering, MI Nurul Huda 02 Clering dan MTs Nurul Huda Clering. Dikemukakan, terhitung sejak Tahun Pelajaran 2007/ 2008 (mulai Juli 2007), jenjang pendidikan dasar ini telah banyak mendapat perhatian dari Pemerintah Pusat dalam rangka penuntasan Wajib Belajar 9 Tahun. Yakni dengan adanya pembebasan biaya pendidikan bagi siswa tidak mampu, serta meringankan siswa lain agar mereka memeroleh layanan pendidikan dasar yang lebih bermutu sampai tamat. Yakni dengan adanya Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dengan ketentuan : Tingkat SD/ MI/ Sederajat sebesar Rp. 254.000,-/ Siswa/ Tahun, dan SMP/ MTs/ Sederajat sebesar Rp. 354.000,-/ Siswa/ Tahun. 2) Pendidikan Formal Tingkat Pendidikan Anak Usia Dini, antara lain : TK “Al-Mawadah” Dukuh Karangsari RT 004 RW 001 Desa Clering, RA “Nurul Huda” Dukuh Karangsari RT 004 RW 001 Desa Clering dan RA “Darul Falah” Dukuh Kedungsari RT 004 RW 003 Desa Clering. 3) Pendidikan Formal Keagamaan, yakni : Madin dan Ponpes yang berfungsi untuk mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan ajaran Islam dan atau menjadi ahli ilmu Agama Islam. Beberapa Madin dan Ponpes tersebut antara lain : Madin “Kramat Sari” Dukuh Karangsari RT 001 RW 001 Desa Clering, Madin “Al-Hikmah” Dukuh Clering RT 003 RW 004 Desa Clering, Madin “Darul Falah” Dukuh Kedungsari RT 004 RW 003 Desa Clering, Ponpes “Al-Ulya” Dukuh Karangsari RT 003 RW 001 Desa Clering, dan Ponpes “Nabaul Jannah” Dukuh Kedungsari RT 001 RW 003 Desa Clering.

Sehubungan dengan hal tersebut, berdasarkan Data Kecamatan Donorojo, Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Desa Clering boleh dikatakan jumlahnya merupakan yang terbanyak se-Kecamatan Donorojo. Yakni sebanyak 20 TPQ, yang bertujuan untuk meningkatkan proses belajar mengajar dan meningkatkan minat baca Al-Qur’an serta penghayatan dan pembinaan anak-anak sebagai generasi penerus umat Islam dalam menambah syiar Islam. Berikut ini data TPQ Desa Clering, antara lain : 1) TPQ “Baitussalamah” Dukuh Karangsari RT 004 RW 001 Desa Clering, 2) TPQ “Muslimat” Dukuh Karangsari RT 004 RW 001 Desa Clering, 3) TPQ “Al-Ikhlas” Dukuh Karangsari RT 002 RW 001 Desa Clering, 4) TPQ “Al-Khoirot” Dukuh Karangsari RT 002 RW 001 Desa Clering, 5) TPQ “Ar-Rohman” Dukuh Karangsari RT 002 RW 001 Desa Clering, 6) TPQ “Darussalam” Dukuh Karangsari RT 001 RW 001 Desa Clering, 7) TPQ “Roudlotul Ulya” Dukuh Karangsari RT 003 RW 001 Desa Clering, 8) TPQ “Al-Basyariyyah” Dukuh Karangrejo RT 002 RW 002 Desa Clering, 9) TPQ “Darul Hikmah” Dukuh Karangrejo RT 001 RW 002 Desa Clering, 10) TPQ “Al-Hikmah” Dukuh Clering RT 003 RW 004 Desa Clering, 11) TPQ “Nurul Amal” Dukuh Clering RT 002 RW 006 Desa Clering, dan masih beberapa lagi yang lain.

Selain berbagai jalur Pendidikan Formal di atas, Desa Clering pun sangat mendukung jalur Pendidikan Non Formal sebagai pelengkapnya. Pendidikan Non Formal tersebut adalah Lembaga Pendidikan Kursus (LPK) LENTERA (Program : Komputer, Seni Rupa dan Seni Musik) Dukuh Karangsari RT 003 RW 001 Desa Clering dan Santi’ Computer Dukuh Karangsari RT 003 RW 001 Desa Clering. Sehingga dari rangkaian informasi tersebut, dapat diketahui bersama bahwa tingkat kepedulian dan minat kependidikan masyarakat Desa Clering pun sangat beragam, seiring tingkat kebutuhan hidup dan jiwa zaman.

Lebih lanjut, terkait tingkat kebutuhan tenaga kependidikan dan kesadaran masyarakat, kini boleh dikatakan bahwa sumber daya manusia Desa Clering pun meningkat. Hal ini bisa diamati dari banyaknya lulusan Perguruan Tinggi yang akhir-akhir ini secara kuantitas meningkat. Yakni banyaknya bermunculan Sarjana/ Ahli. Khususnya Sarjana Pendidikan yang akrab ditulis S.Pd. dan Sarjana Pendidikan Islam yang akrab pula dikenal S.Pd.I. seiring tanggung jawabnya pada Tri Darma Pendidikan Tinggi. Sehingga tepat dikatakan bila di Desa Clering banyak muncul Lembaga Pendidikan, khususnya Lembaga Pendidikan Keagamaan sebagaimana tersebut di atas. Yang sangat sesuai dengan Misi Kabupaten Jepara Tahun 2005-2025 point ke-1, dalam rangka peningkatan sumber daya manusia yang religius, berilmu (cerdas) dan sehat. Yakni dengan didukung adanya beberapa dana bantuan APBD Pemerintah Kabupaten Jepara yang antara lain : 1) Dana Bantuan Operasional TPQ pada tiap tahunnya sebesar Rp. 2.500.000,-, 2) Dana Bantuan Operasional Madin sebesar Rp. 6.000.000,- dan 3) Dana Bantuan Operasional Ponpes sebesar Rp. 5.000.000,-. Selain jenis bantuan tersebut, terdapat pula dana bantuan untuk kesejahteraan Guru, yakni : Tunjangan Hari Raya sebesar Rp. 150.000,- pada tiap tahunnya yang cukup menghibur.

Akhirnya, demikianlah sedikit yang bisa disampaikan pada kesempatan ini. Akhir kata, seiring dengan Visi dan Misi Kabupaten Jepara yang tercantum pada Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2007, semoga “Jepara Religius, Maju, Damai, Sejahtera, Demokratis, dan Berdaya Saing” dapat segera terwujud, khususnya di Desa Clering tercinta dan sekitarnya. Amin…

Arti Lambang
Sebelum secara khusus mengurai Arti Lambang, maka ada baiknya diawali dengan sedikit pertanyaan, “Seberapakah penting arti sebuah Lambang dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara ?”. Maka, jawabnya pasti akan sangat beragam, sesuai dengan tingkat pemahaman masyarakat dan tergantung dari sudut pandang masing-masing.

Misalnya, gambar Lambang Pemerintahan Kabupaten Jepara, “Perisai Bersudut Lima”, yakni terkait dengan falsafah dan pandangan hidup bangsa Indonesia yang berjiwa Pancasila. Selain itu terdapat pula sebuah “Menara” di tengah-tengahnya yang mengandung pesan bahwa masyarakat Jepara sebagian besar memeluk agama Islam. Perihal sektor Seni Budaya, tergambar pula dengan indah “Motif Ukir Jepara Asli” sebagai ungkapan cita rasa keindahan dan ciri khas kerajinan mebel Jepara yang berhiaskan bunga “Melati Diikat Pita Merah”. Yakni, sebagai perlambang R.A. Kartini, “Tokoh Pergerakan Nasional” kelahiran Jepara yang mendunia. Namun, ternyata harus diakui dengan jujur, bahwa terkadang masih ada beberapa Pegawai yang belum mengetahuinya.

Akhirnya, dengan segenap ketulusan hati, sesungguhnya penciptaan Lambang Desa Clering ini bukanlah dimaksudkan untuk mencari seberapa penting arti dan nilainya, akan tetapi hanya sebagai usaha pelengkap dalam mendokumentasikan ide dan pemikiran sederhana guna mengenal lebih dekat kondisi Desa Clering sebagaimana tertulis pada latar belakang di atas, sehingga memiliki kemungkinan menjadi media pengingat dalam rangka membaca, mengenal, menggali dan mengembangkan berbagai potensi desa yang ada sesuai dengan kadar kesanggupan dan tanggung jawab masing-masing.

Gunung Ragas Berkepala Matahari
Melambangkan sosok Pemimpin yang kuat dan berwibawa, adil dan tegas penuh kharisma, yang senantiasa memancarkan sinar kebaikan demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat bersama.

Gunung Bakau Berkepala Rembulan
Melambangkan sosok Pendamping Pemimpin yang senantiasa memantulkan cahaya kasih sayang yang dibutuhkan segenap lapisan masyarakat.

Gunung Kecil Berjajar 11
Melambangkan jumlah Dukuh yang ada di Desa Clering, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara.

Sinar Melingkari Gunung
Melambangkan indahnya kebersamaan hidup gotong-royong dalam mewujudkan cita-cita yang didamba bersama.

Bentuk Segi Tiga Sama Sisi
Melambangkan prinsip dan sikap hidup masyarakat desa yang dilandasi atas dasar keseimbangan sosial, moral dan spiritual keagamaan.


* Disusun Oleh : Frengky Widias Sandy, S.Sn.
Alamat : Dukuh Karangsari RT 003 RW 001 Desa Clering,
Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, Kode Pos 59454
Telp. : 0857 273000 42
Pekerjaan : Guru


Sumber Referensi :
  1. Atlas Kabupaten Jepara, Edisi 2, Pemerintah Kabupaten Jepara.
  2. Dasar Pertimbangan Ijin Operasional Madin dan TPQ, Departemen Agama Kabupaten Jepara 2007.
  3. Data Desa Clering, tanggal 18 Februari 2009.
  4. Data Kecamatan Donorojo Tahun 2009.
  5. Himpunan Peraturan Perundang-Undangan Republik Indonesia Tentang Desa dan Kelurahan, Edisi Lengkap 2007, “Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 72 Tahun 2005 Tentang Desa”.
  6. Seni Karawitan Jawa “Ungkapan Keindahan Dalam Musik Gamelan”, Karya : Dr. Purwadi, M.Hum. dan Drs. Afendy Widayat.
  7. Sosialisasi BOS Dinas Pendidikan Provinsi DIY, SKH Kedaulatan Rakyat 13 Desember 2007.
  8. Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, BAB VI Tentang Jalur, Jenjang dan Jenis Pendidikan.
  9. Wawancara Langsung dengan Bapak Sunaryono (Kasi Sosial dan Lingkungan Hidup Kecamatan Donorojo).

Peta Dukuh Karangsari RT 003 dan RT 004, Desa Clering


Lembaga Pendidikan Non Formal Desa Clering

Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) LENTERA
Program : Komputer, English, Seni Rupa dan Seni Musik
Nomor Izin : 421.9/0401/2010 Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Jepara.
Alamat : Dukuh Karangsari RT 003 RW 001 Desa Clering,
Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Kode Pos 59454, Telp. 0857 273000 42.
Pimpinan : Frengky Widias Sandy, S.Sn.