Oleh : Frengky Widias Sandy*
Sejarah Singkat
Pada masa lampau, oleh para pakar dikemukakan, Jepara dikenal sebagai
Bersamaan dengan perkembangan pelabuhan itu, juga dikembangkan unit usaha industri galangan kapal. Pada abad ke-16, industri galangan kapal di Jawa sangat terkenal di Asia Tenggara. Keahlian arsitek kapal Jawa juga sangat terkenal. Atas keahlian mereka itu, pada tahun 1512 Albuquerque membawa 60 tukang yang cakap dari Jawa untuk memperbaiki kapal-kapal Portugis yang rusak di pantai daratan India. Sehubungan dengan peran Jepara sebagai pelabuhan yang baik dan aman untuk berlabuhnya kapal-kapal niaga besar, dan juga untuk menunjang aktivitas dan ekspedisi militer, maka kebutuhan kapal menjadi meningkat. Oleh karena itu, Ratu Kalinyamat bersama suaminya membangun dan mengembangkan industri galangan kapal besar-besaran yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Tenaga tersebut melibatkan Arsitek, Tukang Kayu dan para Pekerja Kasar, yang dipimpin langsung oleh Sunan Hadirin dan Ratu Kalinyamat. Berbagai peninggalannya dan makam beliau masih dapat kita lihat sampai sekarang di Masjid dan Makam Mantingan Jepara.
Tiga abad sesudah pemerintahan Ratu Kalinyamat, muncul R.A. Kartini pada abad ke-19 dan ke-20 yang memiliki kualifikasi sebagai figur pejuang gigih dan menaruh perhatian besar di bidang sosial, politik, ekonomi, seni, budaya dan agama. Ia lahir di Mayong pada tahun 1879, pada waktu berlanngsungnya hegemoni kolonial Belanda. Peranan R.A. Kartini sebagai pemimpin gerakan wanita menembus abad ke-19 dan memasuki awal abad ke-20. Gaung perjuangannya terasa sampai sekarang. Ia adalah putra keempat dari delapan bersaudara dari putra R.M.A.A. Sosroningrat, seorang Bupati Jepara yang memerintah sejak tahun 1880 sampai tahun 1905. Gelar Adipati baru diperoleh R.M.A.A. Sosroningrat pada tahun 1895, setelah ia menjabat sebagai Bupati Jepara selama 15 tahun. Selama R.A. Kartini masih sekolah, ia sangat produktif menuangkan gagasan dan pemikirannya dalam berbagai bidang. Pikiran-pikiran R.A. Kartini dikomunikasikan kepada Ny. Abendanon, orang Belanda yang diakui oleh R.A. Kartini sebagai ibu angkat, dan kepada teman-teman sejawatnya orang-orang Belanda. Sampai sekarang, berkas surat-suratnya masih tersimpan dengan baik di negeri Belanda. Berkat surat-suratnya yang cemerlang dan menawan hati itu, R.A. Kartini menjadi orang terkenal di kalangan masyarakat terdidik Eropa, khususnya di negeri Belanda. Ia dipandang sebagai seorang timur yang memiliki pemikiran cerdas, cemerlang, dan berbobot. Berkat jasa dan perjuangan beliau, akhirnya R.A. Kartini mendapat penghargaan Bangsa
Letak Geografis
Jepara adalah sebuah
Potensi Wisata Seni Budaya
Benteng VOC. Wisata Sejarah Benteng VOC (Vereenigde Oost-Indiche Commpagnie), benteng ini terletak 200 meter sebelah utara alun-alun Jepara, di atas perbukitan. Benteng ini dibangun pada tahun 1678 dan digunakan untuk melindungi kepentingan perdagangan pada waktu itu. Konon Kapten Tack, seorang perwira Belanda yang tewas melawan pasukan Untung Suropati di Kartosuro, dimakamkan di sini. Dari tempat ini dapat disaksikan Kota Jepara, panorama pantai dan pulau Panjang.
Museum Kartini. Museum ini berada di alun-alun
Pendopo. Di tempat inilah R.A. Kartini mendapatkan ide guna memajukan wanita pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Di sanalah terdapat satu kamar gedung ini R.A. Kartini pernah dipingit sebelum menikah dengan Bupati Rembang. Di tempat ini R.A. Kartini juga mendidik pada murid dan pengrajin Jepara agar dapat meningkatkan penghasilannya dari ketrampilan dalam bidang ukir kayu. Salah satu peninggalan R.A. Kartini yang masih ada adalah Bunga Kantil, tempat dimana ia sering mempergumulkan ide-idenya.
Monumen Ari-Ari. Monumen ari-ari R.A. Kartini terletak di Mayong, 25 km arah selatan Jepara menuju Kudus. Di tempat ini R.A. Kartini dilahirkan pada saat ayahnya menjabat sebagai Wedana di Mayong.
Benteng Portugis. Benteng yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Agung sekitar abad 17 ini terletak di Desa Banyumanis, Kecamatan Donorojo, kurang lebih 45 km sebelah utara Kota Jepara. Lokasinya berada di atas bukit batu di tepi laut dan berhadapan langsung dengan pulau Mandalika memberikan nilai lebih karena pengunjung tidak hanya sekedar melihat benteng tetapi pengunjung juga dapat melihat dan menikmati keindahan laut dan pulau Mandalika. Di samping itu di sekitar benteng banyak ditumbuhi pohon-pohon yang rindang yang sudah berusia ratusan tahun sehingga menambah kesejukan alamnya. Untuk menuju benteng ini telah dibangun jalan menuju puncak bukit, dengan penataan yang baik dan dilengkapi dengan gardu pandang dan jalan lingkar sehingga para wisatawan dapat menikmati keelokan dan keindahan alamnya selama perjalanan menuju benteng. Wisata ini mempunyai potensi dan peluang untuk dikembangkan menjadi wisata sejarah sekaligus wisata alam sehingga kesempatan untuk berinvestasi terbuka lebar dalam bidang transportasi laut sebagai penghubung lokasi benteng dengan pulau Mandalika, restaurant , resort, dan lain-lain.
Makam & Masjid Mantingan. Terletak di Desa Mantingan dan kurang lebih 6 km arah selatan
Sreni Indah. Sreni Indah terletak di lereng Gunung Muria di wilayah Kecamatan Nalumsari, 35 Km dari Jepara. kawasan seluas 110 Ha yang dikelola Perhutani dan Jepara ini dipenuhi dengan tanaman pinus sehingga sangat nyaman karena berhawa sejuk.
Pantai Kartini. Pantai Kartini terletak di sebelah barat Jepara yang merupakan tempat rekreasi yang telah begitu dikenal oleh wisatawan dengan nama Taman Rekreasi Pantai Kartini. Penataan kawasan ini terus dilakukan dengan pembuatan gardu-gardu pandang dan tempat parkir yang cukup luas. Di samping itu telah dilengkapi pula dengan kios-kios souvenir dan perahu-perahu pesiar.
Tirto Samudro/ Pantai Bandengan. Masih juga merupakan wisata pantai Jepara yang menawarkan keindahan hamparan pasir putihnya. pantai ini terletak di Desa Bandengan, 8 km sebelah utara
Kepulauan Karimunjawa. Kawasan ini terletak di laut Jawa ± 83 km dari Kota Jepara menuju arah utara. Obyek ini merupakan kepulauan yang ditetapkan sebagai Taman Nasional Laut Karimunjawa. Luas daratan 7.120 Ha dengan pulau berjumlah 27 buah, namun yang berpenghuni hanya 5 buah. Yaitu : Karimunjawa, Kemujan, Parang, Nyamuk dan Genting. Dengan hamparan pemandangan di sela-sela pulau, pasir putih yang membentang di sepanjang pantai dengan pohon kelapa. Terdapat 242 jenis ikan hias, serta 133 genera fauna akuatik. Dengan kapal motor, Karimunjawa dapat ditempuh dalam waktu sekitar 5 jam dari dermaga Jepara. Di kawasan Taman Nasional Laut ini juga telah dibangun “Kura-Kura Resort” yang merupakan kawasan peristirahatan dengan fasilitas mewah, yang merupakan milik investor asing. Secara garis besar fauna yang ada di Kepulauan Karimunjawa terdiri dari 2 (dua) kelompok, yaitu : 1) Daratan : Rusa, Trenggiling, Landak, Ular, Bangau Tong-tong, Bangau Abu-abu, Elang Laut dan Wedi-wedi. Burung Elang Laut merupakan satwa langka yang dapat dijumpai di kepulauan ini. 2) Perairan : Terumbu Karang, Spons, Karang Lunak, Akar Bahar, Kerang Merah, Penyu dan Ikan Hias. Selain itu, pantai-pantai di Karimunjawa sebagian besar berpasir putih, sehingga cocok untuk kegiatan berjemur, menyelam dan memancing. Kegiatan wisata yang dapat dilakukan antara lain : 1) Olah raga selam : di Tanjung Gelam (di Karimunjawa), Pulau Menjangan Kecil dan Pulau Cemara Kecil, dan 2) Mandi di pantai dan berjemur, cocok dilakukan di Pulau Menjangan Besar yang berpasir putih dan Pulau Cemara Kecil.
Pesta Lomban. Pesta ini merupakan acara sesajian ritual yang dilakukan oleh para nelayan Jepara. Pesta lomban dimulai dengan upacara persiapan di pinggir pantai dan kemudian sesaji yang berupa kepala kerbau dilepas di tengah laut. Setelah sesaji dilepas, beberapa perahu nelayan berebut mendapatkan air dari sesaji itu yang kemudian disiramkan ke kapal mereka dengan keyakinan kapal tersebut akan mendapatkan banyak berkah dalam mencari ikan. Ketika berebut sesaji ini juga dimeriahkan dengan tradisi perang ketupat di mana antar perahu yang berebut saling melempar dengan menggunakan ketupat. Malam hari sebelum acara ini berlangsung, biasanya diadakan pegelaran wayang kulit semalam suntuk.
Obor-Oboran. Perang obor merupakan tradisi yang dilakukan pada puncak panen di Desa Tegal Sambi Kecamatan Tahunan yang letaknya ± 3 km arah selatan
Jembul Tulakan. Suatu kegiatan sedekah bumi dari Desa Tulakan Kecamatan Donorojo yang menampilkan sesajian yang berbentuk gunungan sebagai ungkapan rasa syukur atas limpahan rejeki dari Tuhan Yang Maha Esa, sehingga mereka berhasil mendapatkan panen pertanian dengan cukup melimpah. dengan sajian tersebut juga diharapkan pada masa mendatang dapat berhasil mendapatkan panen yang bagus. Kegiatan ini begitu ramai sehingga tidak saja diikuti oleh warga Desa setempat, namun juga dari berbagai warga Desa lain.
Sumber Referensi :
1. Seni Kerajinan Mebel Ukir Jepara, “Kajian Estetik Melalui Pendekatan Multidisiplin”,
Karya : Prof. Drs. SP. Gustami, S.U.
2. Atlas Kabupaten Jepara, Edisi 2, Pemerintah Kabupaten Jepara.


0 komentar:
Posting Komentar