Tampilkan postingan dengan label Syair Lagu Lentera Musik Clering. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syair Lagu Lentera Musik Clering. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Agustus 2010

SALAM CINTA (Syair Lagu dan Konsep Karya)

SALAM CINTA
Oleh : LENTERA“Kreasi Musik Karangsari Clering” *3

Syair Lagu
Arti hadirmu di jiwaku
Bawa diriku terbang tinggi
Di indahmu…

Anugrah cinta penuh pesona
Karunia indah sang pencipta
Isi dunia…

Salam cintaku untuk segala
Ungkapan rasa betik jiwa
Senandung cinta kian menggema
Ribuan nada terjalin makna
Salam cinta, salam cinta…
Salam cinta untuk segala

Salam cintaku untuk segala
Ungkapan rasa betik jiwa
Senandung cinta kian menggema
Ribuan nada terjalin makna
Salam cinta, salam cinta…
Salam cinta untuk segala

Arti hadirmu di jiwaku
Bawa diriku terbang tinggi
Di indahmu…


Konsep Karya
Dimanakah “Hikmah Senja” ?....
Perlahan, kini rona merah cahyanya menghias indah bentang cakrawala kehidupan, seakan menyimpan pesan abadi perjalanan hidup manusia, mengajak kita untuk berfikir dan merenung kembali, sudah sejauh mana capaian kualitas hidup perjalanan kita hari ini, bulan, tahun yang telah berlalu.

Alhamdulillah, sudah sepatutnya kini kita bersyukur, bila hari ini masih dapat menikmati indahnya suasana senja seperti itu. Meskipun telah kita ketahui bersama, bahwa di sini, di desa tercinta ini, masih cukup banyak persoalan dan ketimpangan sosial yang belum terselesaikan, dan lain sebagainya. Seiring bergulirnya waktu, tentu semua itu insyaAllah masih akan kita urai dan bahas bersama-sama pada kesempatan berikutnya. Seiring hikmah senja, sudah menjadi tradisi masyarakat, bila senja telah berganti, adzan magrib pun mulai berkumandang di mana-mana, di Masjid dan Musholla yang sama-sama kita cintai. Sebuah tanda, bahwa kewajiban menunaikan ibadah sholat segera dilaksanakan. Adapun dalam pelaksanaannya, diantaranya ada yang dilakukan secara berjama’ah, dan ataupun yang dilakukan secara sendiri di rumah masing-masing.

Lebih lanjut, sudah menjadi tradisi masyarakat pula, bahwa pada tiap hari Kamis malam Jum’at, usai sholat magrib, di tiap Masjid dan Musholla bersemangat dalam pembacaan “Berjanjenan” (Sholawat Barjanzi, Diba’i dan lain-lain) yang bisa dinilai sebagai salah satu wujud rasa cinta dan hormat kepada baginda Rasulallah SAW. Dalam prosesnya, ada pula diantaranya yang diiringi dengan tabuhan alat-alat musik Rebana (Terbangan) sebagai salah satu warisan tradisi leluhur di bumi nusantara ini, yang tentu semakin menambah semangat, gairah, rasa haru dan kecintaan yang luar biasa.

Diantaranya adalah sebuah kelompok rebana Santri di ujung desa kita, yang menamakan dirinya “Al-Ulya” yang terdiri dari para santri muda-mudi yang terdengar indah di hati. Selain itu, tidak ketinggalan pula senyum ceria kelompok rebana TPQ Baitussalamah Dukuh Karangsari RT 004 RW 001 Desa Clering, dengan sebutan “GAS” (Gabungan Anak Shaleh) yang merupakan gabungan anak usia sekolah, yang membuktikan tidak hanya pandai Baca Tulis Al-Qur’an, tetapi juga terampil memainkan rebana. Dari gambaran tersebut, kiranya cukup untuk menjadi sebuah pertanda dan kebanggaan kita bersama, bahwa sudah sepatutnya kegiatan itu dikembangkan lebih lanjut dan mendapat dukungan dari berbagai pihak terkait.

Demikianlah sedikit untaian kabar indah yang sepatutnya kita syukuri. Meski ketika di tengah-tengah ketimpangan sosial dan lain sebagainya tak kunjung berhenti. Yakni, masih maraknya kebiasaan masyarakat desa kita yang gemar Miras dan Judi, yang tentu cukup mengganggu ketentraman masyarakat, ketertiban dan nama baik Desa tercinta.

Akhirnya, “Salam Cinta” teruntuk bagi siapa saja yang senantiasa memantulkan cahaya keindahan dan perdamaian hidup. Semoga senandung cinta kian menggema di segenap penjuru. Amin… (bersambung ke...*4)

*3) Disusun Oleh : LENTERA “Kreasi Musik Karangsari Clering”
Alamat : Dukuh Karangsari RT 003 RW 001 Desa Clering,
Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah,
Kode Pos 59454, Telp. 0857 273000 42

HIKMAH SENJA (Syair Lagu dan Konsep Karya)

HIKMAH SENJA

Oleh : LENTERA“Kreasi Musik Karangsari Clering” *2


Syair Lagu

Redup mentari senja

Pantulan duka akhir hayatmu

Menepi ‘ku sendiri

Engkau t‘lah pergi takkan kembali


Kupasrahkan diri pada illahi

Demi sang waktu yang terus berlalu

Bisikkanlah padaku kata indahmu

Jalani hidup hanya untukmu


Dimana hikmah senja

Pesan abadi kuatkan hati

Di sini ‘ku berdiri

Berpegang janji melangkah pasti


Kupasrahkan diri pada illahi

Demi sang waktu yang terus berlalu

Bisikkanlah padaku kata indahmu

Jalani hidup hanya untukmu


Redup mentari senja

Pantulan duka akhir hayatmu…


Konsep Karya

Seiring tumbuh daun bersemi, bening butir embun pun perlahan mulai memantulkan keindahannya. Pagi itu, suasana Dukuh Karangsari Desa Clering sungguh ramai dan menyenangkan. Saat sang fajar tiba, sejuk angin berhembus benar-benar terasa menyentuh hati sanubari terdalam. Bagai sebuah awal kehidupan, atau awal sebuah kelahiran, terbit sang fajar seakan menjadi sebuah pertanda, bahwa aktifitas perjalanan hidup manusia di dunia segera dimulai.

Sehubungan dengan hal itu, sudah menjadi tradisi masyarakat, bila bulan Ramadhan tiba, kegiatan keagamaan di desa Karangsari dan sekitarnya begitu semarak dan beragam. Diantaranya adalah makan sahur dan buka puasa bersama, sholat Tarawih, Tadarus dan lain sebagainya. Selain itu, tidak ketinggalan pula adalah peran aktif anak-anak dalam kegiatan “Tetek” dimalam hari, sebagai penanda bahwa makan sahur telah tiba. Yakni, sebuah tabuhan alat musik sederhana dengan cita rasa yang unik.

Lebih lanjut, sudah menjadi kebiasaan masyarakat, bila fajar tiba, dibulan Ramadhan banyak anak-anak, remaja dan orang tua yang bersemangat keluar rumah dan memenuhi jalanan guna menghirup udara segar lagi bersih. Sembari berjalan santai, terlihat anak-anak pun riang berlari-lari kecil. Sehingga suasana pun semakin indah merekah, berhias senyum dan tawa masyarakat dalam mengisi kebersamaan dan lain sebagainya.

Seiring fajar menyingsing, perlahan mentari pun mulai menampakkan keindahannya. Cerah cahyanya, seakan memancar sejuta harapan ke segenap penjuru. Memancar kerinduan suasana mesra seperti itu. Namun, kini sungguh sayang, boleh jujur dikatakan, bahwa saat fajar tiba, suasana memeriahkan bulan Ramadhan beserta semangat dan keceriaan seperti itu, sekarang sudah mulai terkikis dan menghilang, bahkan hampir tiada lagi.

Atau boleh pula dikatakan, saat fajar tiba, masyarakat sekarang sudah mulai enggan. Barangkali zaman memang sudah berubah, oleh keadaan dan suasana yang sudah tidak mendukung lagi. Mungkin, diantaranya adalah dikarenakan jalan desa yang dulu beraspal baik, kini banyak yang berlobang dan rusak, sebab terlalu lama tidak terawat dan termakan usia. Atau sangat mungkin pula, kerusakan jalan desa ini disebabkan oleh banyaknya Truck bermuatan ribuan ton tambang batu feldspar yang melintas tiap hari, bulan dan tahun yang berlalu, hingga sampai sekarang, dan tentu masih akan berlanjut ditahun-tahun mendatang sampai penambangan benar-benar habis dan berhenti total.

Demikianlah, tak terasa zaman memang telah berubah. Demikian halnya matahari, sang fajar pun telah berganti, terbit dan tenggelam seiring perjalanan hari. Sehingga pada tiap zaman, segala sesuatunya telah membawa catatan dan sejarah perjalanan hidup masing-masing.

Akhirnya, sedikit kutipan syair lagu “Hikmah Senja” ini, Ragas dan Tina pun bersenandung tanya : “Dimana hikmah senja, pesan abadi kuatkan hati, di sini kuberdiri, berpegang janji melangkah pasti, ‘tuk meraih asa, cita dan cinta yang lebih baik, dalam banyak hal. Amin… (bersambung ke...*3)


*2) Disusun Oleh : LENTERA “Kreasi Musik Karangsari Clering”

Alamat : Dukuh Karangsari RT 003 RW 001 Desa Clering,

Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah,

Kode Pos 59454, Telp. 0857 273000 42

RAGAS & TINA (Syair Lagu dan Konsep Karya)

RAGAS & TINA

Karya : LENTERA “Kreasi Musik Karangsari Clering” *1


Syair Lagu

Bagai seruling sangkakala

Bangunkanku dari tidur yang panjang

Masih adakah sebuah kemungkinan diriku dirimu

Tuk sejenak merenungi perjalanan hari ke hari, bulan, tahun yang t'lah berlalu …


Indah rembulan terbelah

Dongengan cinta anak manusia

Ragas & Tina saling mencinta


Hidup di gunung berteman rimbun daun

Bernyanyi bersama kicau burung-burung

Membentang luas hijau sawah dan ladang

Abadi tersimpan indah dalam kenangan


S'pasang mata bertemu pandang

Senyum tersipu

Ragas & Tina makin merindu


Hidup di gunung berteman rimbun daun

Bernyanyi bersama kicau burung-burung

Membentang luas hijau sawah dan ladang

Abadi tersimpan indah dalam kenangan


Kini kubaca kembali anak negri

Hidup terasing di bumi pertiwi

Rakusnya tanam ke-tidak adil-an

Tindas mereka di sawah dan ladang


Oh, Ragas dan Tina

Di sini aku berdiri

Di sini aku terlahir kembali

Sayatan-sayatan serulingmu

Ingatkan aku nenek moyangmu…


Konsep Karya

Lagu ini berkisah gambaran indah gunung Ragastina di Dukuh Karangsari Desa Clering. Ada kerinduan mengenang indahnya gunung dengan mengabadikannya ke dalam lagu dengan sentuhan dongeng cinta sepasang anak manusia yang saling mencinta : “Ragas & Tina”. Yakni, sebuah nama yang diambil dari nama gunung Ragastina ini. Gunung yang dulu dipahami sebagai anugerah Tuhan dengan indahnya panorama alam, tumbuh hijau pohon bersemi, riuh kicau burung bernyanyi, dan tergambar pula hamparan sawah dan ladang yang melingkar indah. Seiring sejuk hembusan sang bayu, senyum bahagia pun terpancar mesra usai musim panen tiba. Namun, semua itu kini telah berganti panas, gersang dan tandus oleh datangnya gerusan industri Tambang Batu Feldspar yang mulai tak ramah bagi lingkungan. Diantaranya, ribuan debu yang beterbangan di sana-sini, masuk rumah dan sekolah, yang tentu cukup mengganggu kesehatan dan lain-lain.

Lebih lanjut, sikap hidup masyarakat yang dulu dikenal santun, ramah lingkungan, sederhana, jujur, lugu dan bersahaja, perlahan ada yang mulai berganti masyarakat individualis-matrealis yang hanya mementingkan diri sendiri demi kepentingan ekonomis semata. Sehingga, tingkat penghargaan dan kepedulian pada indahnya alam mulai memudar. Masih tergambar pula dengan jelas, ketika suasana desa yang dulu damai bersahabat, anak-anak riang bermain di pematang sawah yang hijau, sembari terdengar alunan seruling anak gembala sayup terdengar damai menghibur, membawa suasana khas pedesaan yang sungguh sayang untuk dilewatkan, yang telah menjadi sebuah ciri khas alam pedesaan sebagai tradisi warisan leluhur.

Dengan suasana damai seperti itu, maka wajar bila nenek moyang kita dulu, dalam proses hidupnya banyak meninggalkan warisan tata budaya dalam karya-karyanya, dengan beragam media dan bahasa. Misal, kesenian “Gejok Lesung”, yakni sebuah rangkaian alunan nada bertalu seiring tumbukan padi yang usai dipanen adalah sebuah cerminan sikap hidup gotong-royong dalam menumbuk padi yang riang gembira, penuh semangat dan cita rasa estetis yang khas. Atau, misalnya “Local Genius” pada karya dongeng-dongeng yang melegenda tembus zaman, yang masih dapat kita nikmati sampai sekarang lengkap dengan berbagai permainan anak-anak yang sangat beragam dan mendidik.

Bila dicermati lebih jauh, kemunculan semua itu, tentu merupakan sebuah rangkaian proses kreatif kesadaran hidup yang terencana, dalam mengekspresikan suatu peristiwa, yang menyimpan pesan sarat makna : baik moral, sosial maupun spiritual masyarakat. Sehingga pada akhirnya bisa disimpulkan dengan bijak, bahwa semua itu merupakan bukti nyata sumbangsih tiap generasi di zamannya dalam rangka untuk mempersembahkan yang terbaik yang bisa berawal dari : apa yang dilihat, didengar, dirasa dan lain sebagainya yang mengendap dalam hati dan tumbuh dalam jiwa masyarakat desa. (bersambung ke...*2)


*1) Disusun Oleh : LENTERA “Kreasi Musik Karangsari Clering”

Alamat : Dukuh Karangsari RT 003 RW 001 Desa Clering,

Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah,

Kode Pos 59454, Telp. 0857 273000 42