Kamis, 08 Juli 2010

Lambang Kecamatan Donorojo

KONSEP LAMBANG KECAMATAN DONOROJO
Oleh : Frengky Widias Sandy*


Latar Belakang
Ini hanyalah sebuah catatan singkat, harapan, cita-cita, dan lain sebagainya dalam rangka merekam dan mendokumentasikan ide dan pemikiran, demi sebuah keindahan dan keberlangsungan cita-cita mulia para leluhur Putra Jepara. Atau dengan kata lain, bisa juga dinilai sebagai sebuah cerita seorang abdi kepada pimpinannya, yang menginginkan kebaikan dan idealisme sebuah tatanan hidup. Alhamdulillah, sudah hampir satu tahun Kecamatan Donorojo bersemi, bagai daun muda yang sedang mekar indah, segar, yang rindu cahaya.

Seiring pemekaran makna, pada kesempatan ini boleh dikatakan, secara arti bahasa Jawa, Donorojo adalah terdiri dari dua suku kata, yakni : “Dono” yang berarti Suka Memberi, dan “Rojo” yang berarti seorang Raja atau Pemimpin. Sehingga bisa bernilai, ada seorang figur Raja atau Pemimpin yang suka memberi. Atau lebih lanjut, adalah Pemimpin yang suka memberi tauladan hidup, baik bersifat material ataupun spiritual. Sehingga yang dipimpin menjadi sejahtera, taat dan bersahaja.

Dari uraian ini, tentu masih sangat mungkin untuk membuka peluang tafsir dan nilai yang diyakini bermakna, yang syah-syah saja untuk dikembangkan sesuai pengalaman dan muatan kalbu masing-masing untuk memberikan persembahan yang terbaik, sehingga untaian cita-cita dapat segera terbaca dan dipahami.

Seiring terbit mentari di ufuk timur, Donorojo, ketika sang Pemimpin bertutur kepada rakyatnya, rasa bangga pun meresap dan memancar ke segenap penjuru dunia. Berawal dari kerinduan mendalam pada figur dan spirit tokoh terkemuka Jepara, terpanggil hati untuk merenungkan kembali cita-cita bangsa ini. Mari sejenak kita baca kembali era kepemerintahan dan kepemimpinan tokoh pejuang penting yang menghias lembar emas perjalanan sejarah panjang Jepara, yang sama-sama kita cintai dan banggakan. Terlintas pula dalam ingatan, untaian bijak Bapak Proklamator kita yang menyatakan, bahwa “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya”.

Adalah sebuah fitrah manusia, bahwasanya kerinduan hati pada sesuatu yang membahagiakan dan mensejahterakan sama-sama kita impikan, sebagaimana yang tertuang dalam pembukaan dan batang tubuh Undang-Undang Dasar 1945. Dalam hal ini, terkhusus untuk kota Jepara, tentu kita masih ingat, ketika di zaman Hindu, yakni pada abad ke-7 di Jepara telah berdiri megah sebuah kerajaan besar yang bernama Kalingga yang dipimpin oleh seorang Ratu yang bernama Ratu Shima. Sungguh beruntung ketika memiliki figur Pemimpin, Raja atau Ratu yang sangat terkenal kearifan, keadilan dan kebijaksanaannya itu, yang sangat disegani rakyatnya dan bangsa-bangsa lain. Selain itu, dengan pakaian anggun dan perhiasan kebesarannya yang sangat indah, yang terbuat dari emas, logam, perak, dan tembaga, serta seperangkat kecerdasan yang luar biasa, Beliau telah meletakkan dasar-dasar pengenalan ilmu pengetahuan dan berbagai keterampilan kepada rakyatnya : ilmu pengecoran logam, bercocok tanam, membuat alat transportasi darat dan laut, membuat rumah, perabot dan lain sebagainya, serta kegiatan di bidang kerajinan tangan dan pertukangan yang lebih lanjut dikembangkan oleh Ratu Kalinyamat di zaman berikutnya.

Sesudah kepemimpinan Ratu Shima berlalu, yakni pada kurun waktu kurang lebih abad ke-16, di zaman Islam, kita memiliki seorang Pemimpin atau Ratu yang sangat terkenal pula. Beliau adalah Ratu Kalinyamat, seorang putra ke-3 dari enam bersaudara keturunan Sultan Trenggana dari Demak. Diantara catatan emas yang masih lekat dalam benak adalah keberhasilan Beliau dalam menjalankan roda kepemerintahan yang mengantarkan Jepara pada kemajuan industri galangan kapal dan pertukangan yang luar biasa dan besar-besaran, sehingga banyak menyerap tenaga kerja, arsitek, tukang kayu, pekerja kasar, dan lain sebagainya, yang lebih lanjut menjadikan Jepara sebagai pusat pelabuhan penting dan terkemuka di Jawa. Ketenaran Jepara pun akhirnya meluas di dunia internasional. Alhamdulillah, peninggalan-peninggalan Beliau masih dapat kita jumpai sampai sekarang di Masjid dan Makam Mantingan Jepara.

Seiring matahari yang terus bergulir, masih pula menancap dalam hati, di zaman kolonial, ketika zaman penjajahan yang luar biasa menindas, kita memiliki RA Kartini yang berperan penting dalam olah rasa dan pemikiran yang cerdas, mengantarkan Beliau pada predikat nasional sebagai Pahlawan Bangsa. “Habis Gelap Terbitlah Terang”, itulah salah satu tulisan Beliau yang diterjemahkan lebih dari satu bahasa, yakni : Bahasa Belanda, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Bahasa Melayu, Bahasa Sunda, dan Bahasa Jawa, yang selalu tetap relevan sampai sekarang. Bila ditelusuri lebih jauh, kemunculan pemikirannya tentu tidaklah serta merta adanya, melainkan adalah sebuah usaha sadar dan terencana yang dilakukan RA Kartini dan masyarakat pendukungnya. Yakni, sebuah proses panjang RA Kartini yang selalu bergemuruh dalam hati dan jiwanya untuk memajukan bangsanya yang tertindas dan tertinggal.

Perlu disampaikan, dalam suatu catatan dikatakan, RA Kartini semasa hidupnya adalah seorang gadis yang giat belajar berbagai ilmu pengetahuan. Diantaranya, Beliau adalah seorang Santri yang belajar ilmu agama kepada KH. Sholeh Darat, yang asli kelahiran Jepara dan menjadi Guru Besar di Masjidil Haram Mekah. Dikemukakan, waktu itu RA Kartini belajar ilmu tafsir Al-Qur'an Surat Al-Faatihah, dengan niatan ingin mengerti arti bahasa Arab pada Kitab Suci Al-Qur'an dan memahaminya, sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Boleh dikatakan, pada waktu itu pemahaman masyarakat pada kandungan arti bahasa dan makna Al-Qur'an masih sangat terbatas, karena belum ada Al-Qur'an Terjemah dan Tafsir seperti sekarang. Setelah RA Kartini belajar ilmu tafsir pada KH. Sholeh Darat, RA Kartini menyatakan : “Setelah saya mengerti dan memahami kedalaman makna yang terkandung dalam surat Al-Faatihah, hidup terasa terang benderang”. Maka, dalam hal ini, RA Kartini tentu bisa kita nilai adalah figur Pemimpin yang luas ilmunya, sehingga semakin lengkap cakrawala berfikir dan makin mantap prinsip hidupnya.

Gerak langkah RA Kartini yang demikian mengagumkan itu, selain dikenal sebagai tokoh emansipasi wanita, Beliau juga mendirikan sekolah untuk kaumnya yang sekaligus menjadi Guru bagi wanita pribumi. Di sisi lain, Beliau juga dikenal sebagai seorang seniman sastra yang handal, terbukti bahwa tulisan dan pemikirannya tersebut yang diterjemahkan lebih dari satu bahasa. Selain itu, dalam olah seni dan budaya, catatan emas perjalanan seni rupa modern telah menempatkan Beliau sebagai salah seorang perintis Desain Batik, Desain Mebel dan Seni Lukis Modern di Indonesia.

Demikianlah, serangkaian proses permenungan sejenak demi usaha mengambil kembali spirit hidup dan ketauladanan Putra Jepara yang benar-benar telah menghias lembar emas perjalanan sejarah bangsa. Demikianlah, tak terasa sang matahari perlahan mulai menghilang dikeremangan senja. Sebuah tanda, bahwa hari akan segera berganti. Akhirnya, bagai seorang pemimpin yang berpesan pada abdinya, atau ibarat seorang kakak yang berpesan untuk adik tercinta, maka kami akhiri tulisan ini dengan sedikit untaian bijak dari RMP Sosrokartono, yakni kakak kandung RA Kartini dengan mengatakan, “Sepi ing pamrih, rame ing gawe”. Yang bisa dipahami sebagai tauladan atau pesan untuk selalu aktif berkarya, dan bersikap hidup ikhlas, demi kelangsungan regenerasi di masa sekarang dan yang akan datang. Amin..

Arti Lambang
Seniman sebagai agen kreatifitas seni membuktikan, bahwa seni merupakan ukuran yang langsung tentang visi spiritual manusia. Kehadiran seni selalu selaras dengan Jiwa Zaman yang dinamis, baik segi sosial, ekonomi, politik, budaya dan agama. Lebih lanjut, eksistensi simbol atau lambang sebagai sebuah bahasa budaya, merupakan salah satu bahasa ungkap yang efektif dalam menuangkan cita-cita dan pandangan hidup, baik bersifat individu ataupun kelompok.

Dalam geraknya, secara filosofis, simbol atau lambang adalah terbentuk atas dasar pertimbangan dengan tujuan tertentu, yang merupakan sebuah kesepakatan bersama, sehingga memiliki kekuatan utuh sebagai sebuah bahasa. Misal, warna Merah Putih bendera kita, tentu punya nilai dan makna yang sama-sama telah kita sepakati dan pahami. Lebih lanjut, dalam kancah budaya Jawa, munculnya suatu simbol atau lambang, pada hakikatnya adalah rekaman batin manusia sejati untuk mengungkapkan keindahan terdalam dalam rangka “Mewayu Hayuning Bawana” yaitu sebuah konsep mendasar masyarakat Jawa dalam berkarya untuk mempersembahkan kepada dunia yang indah ini menjadi lebih indah, seiring logika, etika dan estetika masyarakat pendukungnya.

Termasuk hakikat psikis manusia, bahwasanya apa yang dihayati dalam hidupnya, senantiasa akan terekam dalam batin dan ingatan, kebahagiaan, kepedihan dan lain sebagainya yang sangat membekas dalam hati dan ingatan. Peristiwa yang muncul tidaklah lepas begitu saja, melainkan menyelami jiwa.

Perisai Bentuk Mahkota :
Melambangkan figur Pemimpin yang menyejarah di Jepara

Matahari :
Melambangkan sumber cahaya dan ilmu pengetahuan, serta kesadaran yang menyinari kehidupan

Sinar Matahari Berjumlah Lima :
Melambangkan Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia yang mencerahkan

Daun Ukir Motif Jepara Asli Berjumlah 8 :
Melambangkan jumlah Desa yang ada di Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara

Warna Bumi Hijau Berlapis 3 :
Melambangkan proses dan tahapan pembangunan demi kesejahteraan masyarakat bersama yang harus ditempuh dengan penuh kerja keras, kesabaran dan gotong-royong


* Disusun oleh : Frengky Widias Sandy, S.Sn.
Alamat : Dukuh Karangsari RT 003 RW 001 Desa Clering
Kecamatan Donorojo Kabupaten Jepara, Kode Pos 59454
Telp. : 0857 273000 42
Pekerjaan : Mengajar Seni Rupa dan Desain di SMA Islam Keling Jepara


Sumber Referensi :
  1. Seni Kerajinan Mebel Ukir Jepara “Kajian Estetik Melalui Pendekatan Multidisiplin”,Karya : Prof. Drs. SP. Gustami, S.U.
  2. Seni, Arti dan Problematikanya, Karya : Herberd Read, diterjemahkan oleh Prof. Soedarso Sp
  3. Daya Kekuatan Simbol, Karya : F.W. Dilistone, diterjemahkan oleh A. Widyamartaya
  4. Seni Rupa dan Desain SMA, Karya : Dr. Agus Sachari, M.Sn.
  5. Pijar-Pijar Penyingkap Rasa : Sebuah Wacana Seni dan Keindahan, Karya : Bagoes P. Wiryomartono
  6. Manusia Merenungkan Dirinya, Karya : Theo Huijbers
  7. Seni Karawitan Jawa “Ungkapan Keindahan Dalam Musik Gamelan”, Karya : Dr. Purwadi, M.Hum. dan Drs. Afendy Widayat
  8. 99 Kyai Kharismatik Nusantara, Karya : KH. Aziz Masykuri
  9. Menyorong Rembulan, Karya : Emha Ainun Nadjib
  10. Agenda Kritis Pembangunan Nasional, Karya : Dr. Tarmizi Taher

0 komentar:

Posting Komentar